Pendidikan dalam Islam bukan sekadar proses akademik, bukan pula sebatas transfer pengetahuan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa pendidikan adalah perjalanan iman dan kesadaran yang berlangsung terus-menerus, sejak manusia mengenal kebenaran hingga ajal menjemput. Inilah yang membedakan pendidikan Qur’ani dari pendidikan yang hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual.
Dalam epistemologi Qur’ani, persoalan utama manusia bukan terletak pada kurangnya informasi, tetapi pada cara dan kesiapan batin dalam menerima kebenaran. Karena itu, Al-Qur’an memandu arah pendidikan melalui tiga lapis kesadaran: qalb, fu’ād, dan lubb.
Qalb: Pendidikan Dimulai dari Hati yang Menerima
Al-Qur’an menegaskan bahwa memahami kebenaran bukan semata kerja akal, melainkan fungsi hati:
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami.” (QS. Al-A‘rāf: 179)
Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki pengetahuan, tetapi gagal memahami makna dan arah hidup. Dalam perspektif pendidikan Islam, qalb adalah pintu masuk ilmu dan hidayah. Jika qalb tertutup oleh kesombongan, hawa nafsu, atau cinta dunia, maka ilmu tidak akan melahirkan ketaatan.
Karena itu, pendidikan Qur’ani selalu diawali dengan pembinaan adab, keikhlasan, dan penyucian hati. Ilmu yang masuk ke qalb yang bersih akan menjadi cahaya, sedangkan ilmu yang masuk ke qalb yang sakit justru dapat menjerumuskan.
Fu’ād: Pendidikan dalam Ujian Kehidupan
Namun menerima kebenaran saja tidak cukup. Ilmu dan iman akan diuji oleh realitas kehidupan. Di sinilah Al-Qur’an menggunakan istilah fu’ād, hati yang sedang bergolak oleh tekanan batin.
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا
“Dan menjadi kosonglah fu’ād ibu Musa.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 10)
Ibu Musa telah menerima wahyu dan janji Allah. Namun ketika harus menghanyutkan bayinya ke sungai, keguncangan batin tak terhindarkan. Ayat ini mengajarkan bahwa iman dan pengetahuan akan selalu diuji dalam kondisi paling sulit.
Di sinilah pendidikan berlanjut di luar ruang kelas. Pendidikan melatih kesabaran, tawakal, dan keteguhan hati agar kebenaran tetap dipegang meski keadaan terasa berat. Tanpa pendidikan pada level fu’ād, seseorang mudah goyah ketika menghadapi ujian hidup.
Lubb: Pendidikan Menuju Kematangan Iman
Puncak pendidikan dalam Al-Qur’an adalah lubb, inti kesadaran yang jernih dan matang. Orang-orang yang mencapai tahap ini disebut Ulul Albāb:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albāb).” (QS. Āli ‘Imrān: 190)
Ulul Albāb bukan sekadar orang yang banyak tahu, tetapi mereka yang ilmunya melahirkan kesadaran, ketundukan, dan amal yang istiqamah. Pada tahap ini, emosi tidak lagi menguasai iman, dan akal tidak berjalan tanpa arah.
Inilah tujuan akhir pendidikan Islam: melahirkan manusia yang bijak, tenang, dan kokoh dalam ketaatan.
Pendidikan yang Tidak Pernah Selesai
Dari qalb, fu’ād, hingga lubb, Al-Qur’an menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses seumur hidup. Selama hati masih bisa berbolak-balik, selama batin masih diuji oleh kehidupan, dan selama iman masih perlu dimatangkan, pendidikan tidak boleh berhenti.
Pendidikan Islam bukan hanya untuk anak-anak atau pelajar, tetapi untuk setiap mukmin sepanjang hayatnya. Ia berjalan bersama iman, menguat bersama ujian, dan berakhir ketika kehidupan berakhir.
Penutup
Epistemologi Qur’ani mengajarkan bahwa kebenaran harus diterima oleh qalb, diuji dalam fu’ād, dan dimatangkan dalam lubb. Inilah arah pendidikan iman yang paripurna—pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga meneguhkan dan menyelamatkan manusia hingga akhir hayat. (*)
