Belajar Tobat dari Kisah Nabi Musa AS

Belajar Tobat dari Kisah Nabi Musa AS
*) Oleh : Furkan Abidin Ali, S.H.I
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, sebab khilaf adalah bagian dari fitrah kemanusiaan kita. Namun, yang membedakan seorang hamba di hadapan Sang Pencipta bukanlah tentang seberapa bersih ia dari noda dosa, melainkan bagaimana cara ia bangkit ketika terperosok ke dalam jurang kesalahan. Pelajaran berharga ini terekam jelas jauh sebelum Musa as diangkat menjadi seorang nabi.

Kisah tersebut bermula pada suatu siang yang terik di kota Memphis. Di tengah kesunyian jam istirahat penduduk istana Firaun—tempat ia dibesarkan sebagai anak angkat—Musa muda menyelinap keluar karena hatinya diliputi keresahan mendalam melihat kekejaman rezim yang berkuasa. Di tengah jalan, ia mendapati dua orang tengah berkelahi: seorang dari golongan Bani Israil (kaumnya) dan seorang lagi dari bangsa Qibti.

Didorong oleh jiwa pembela keadilan yang membara untuk menolong pihak yang tertindas, Musa datang melerai lalu memukul pria asal Qibti tersebut. Nahas, pukulan itu berakibat fatal dan merenggut nyawa seketika.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Musa tidak pernah berniat membunuh; itu adalah sebuah insiden tragis di luar kendali. Namun, kenyataan tetaplah pahit: nyawa telah melayang.

Mengakui Kesalahan dan Bertobat

Seketika itu pula, kesadaran spiritual Musa terbangun. Tanpa mencoba mencari pembelaan diri atau bersembunyi dari nuraninya, beliau langsung mengakui kesalahannya di hadapan Allah dengan penuh kepasrahan:

Beliau berkata:   هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ

“Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.” (QS Al-Qashash: 15)

Tanpa menunggu orang lain tahu atau menunda waktu, Musa langsung memohon ampun dengan kalimat tobat yang sangat tulus dan kini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai doa tobat:

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.”

Respons cepat ini mengajarkan sebuah hakikat agung: dosa terbesar bukanlah kesalahan fisik yang kita lakukan, melainkan ketidakmauan hati untuk segera kembali kepada Allah.

Ketika berita kematian itu sampai ke telinga Firaun dan pasukannya, mereka mengerahkan pasukan untuk memburu Nabi Musa guna menjatuhkan hukuman mati. Atas nasihat seseorang yang setia, Musa akhirnya melarikan diri seorang diri menuju tanah Madyan—sebuah perjalanan pelarian penuh air mata yang kelak menuntunnya bertemu Nabi Syuaib dan menerima wahyu agung di Bukit Thursina.

Kisah ini adalah oase bagi siapa saja yang hari ini tengah bergelut dengan rasa bersalah. Pintu ampunan Allah Swt (Al-Ghafur) tidak pernah tertutup bagi hamba yang tulus menyesali perbuatannya dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Doa tobat Nabi Musa as bukan sekadar untaian kata masa lalu, melainkan mercusuar penenang jiwa yang sangat baik diamalkan setiap kali kita tersadar dari khilaf harian. Sebab, di balik air mata tobat, selalu ada rencana indah dan lembaran baru yang telah disiapkan oleh-Nya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search