Pertanyaan seputar bacaan salawat Nabi dan Kitab Barzanji kerap muncul di tengah masyarakat. Bagaimana sebenarnya pandangan Muhammadiyah terkait hal ini? Apakah membaca Kitab Barzanji benar-benar mendatangkan pahala, atau justru mengandung masalah akidah? Berikut penjelasan lengkapnya.
Salawat Menurut Muhammadiyah
Dalam pandangan Muhammadiyah, salawat berarti doa, pemberian berkah, dan ibadah. Salawat Allah kepada hamba-Nya terbagi dua:
1. Salawat khusus, yaitu salawat Allah kepada para rasul, khususnya Nabi Muhammad SAW.
2. Salawat umum, yaitu salawat Allah kepada seluruh hamba-Nya yang beriman.
Dari sini dapat dipahami bahwa membaca salawat tidak hanya sekadar melafalkan kalimatnya, tetapi juga harus diiringi usaha menyebarkan ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Adapun bentuk-bentuk salawat yang sahih telah diriwayatkan dalam hadis Nabi, baik yang panjang maupun pendek. Misalnya:
Contoh salawat panjang:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya Allah, muliakanlah Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau muliakan keluarga Ibrahim, dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari dari Abu Sa’id Kaab bin Ujrah)
Contoh salawat pendek:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, muliakanlah Nabi Muhammad dan keluarganya.” (HR. An-Nasa’i dari Zaid Ibnu Kharifah)
Semua contoh salawat sahih dapat ditemukan dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan, maupun Musnad Ahmad.
Waktu Utama Membaca Salawat Nabi
Menurut hadis Nabi, waktu-waktu yang dianjurkan untuk membaca salawat antara lain:
1. Setelah azan.
2. Ketika masuk masjid.
3. Sesudah tasyahud akhir dalam salat.
4. Di dalam salat jenazah.
5. Pada awal dan akhir doa.
6. Saat qunut.
7. Malam Jumat.
8. Dalam khutbah.
9. Sesudah bertalbiyah.
10. Saat berziarah ke makam Nabi SAW.
11. Saat telinga berdenging.
12. Setiap majelis ilmu.
13. Ketika menghadapi kesusahan.
14. Pagi dan petang.
15. Saat berjumpa dengan sahabat atau kerabat.
16. Ketika nama Rasulullah SAW disebut.
Bagaimana dengan Kitab Barzanji?
Kitab Barzanji dikenal luas di masyarakat sebagai bacaan dalam perayaan maulid Nabi. Namun, Muhammadiyah menilai bahwa kitab ini mengandung lafaz yang berlebihan, bahkan menyimpang dari akidah yang benar.
Beberapa contoh yang dianggap bermasalah antara lain:
1. Menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai “cahaya pertama” yang ada sebelum makhluk lain diciptakan.
وَ أُصَلِّي وَ أُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ اْلْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَ اْلأَوْلِيَّةِ الْمُنْتَقِلِ فِي اْلغُرَرِ اْلكَرِيْمَةِ وَ اْلجِبَاةِ
“Aku ucapkan shalawat dan bahagia atas cahaya yang bersifat mula pertama, yang berpindah-pindah di ubun-ubun dahi-dahi yang mulia.”
2. Menyebut kelahiran Nabi diiringi kehadiran Maryam, Asiah, dan para bidadari surga, padahal tidak ada riwayat sahih tentang hal tersebut.
وَ لَمَّا أَرَادَ اللهُ إِبْرَازَ الْمُحَمَّدِيَّةِ وَ إِظْهَارَهُ جِسْمًا وَ رُوْحًا بِصُوْرَتِهِ وَ مَعْنَاهُ. نَقَلَهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ صَدَفَةِ آمِنَةَ اْلزُهْرِيَّةِ وَ خَصَّاهَا اْلقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ بِأَنْ تَكُوْنَ أُمًّا لِمُصْطَفَاهُ
“Dan tatkala Allah menghendaki penjelmaan hakikat Muhammad dan pelahiran jisim, ruh dan bentuk yang semestinya, maka beliau dipindah ke dalam rahim ibunda Aminah Az-Zuhriyah, yang telah ditentukan Allah yang Maha Dekat lagi Maha Pengabul sebagai ibunya.”
وَ لَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ تِسْعَةَ أَشْهُرٍ قَمَرِيَّةٍ وَ آنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِيَ عَنْهُ صَدَاهُ. حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةُ وَ مَرْيَمُ فِي نِسْوَةٍ مِنَ اْلحَظِيْرَةِ اْلقُدْسِيَّةِ. وَ أَخَذَهَا الْمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ “ص” نُوْرًا يَتَلَأْلَأُ سَنَاهُ
“Dan ketika telah cukup kandungan sembilan bulan Qamariyah dan sampai waktunya untuk menjelma dengan nyata, datanglah berkunjung malam itu pada ibunya Asiah dan Maryam beserta rombongan (bidadari-bidadari) dari surga dan setelah tiba saat kelahirannya, maka lahirlah Muhammad saw bagai cahaya yang memancar berkilau-kilauan.”
3. Menggambarkan seolah-olah Rasulullah hadir ketika Kitab Barzanji dibacakan, hingga timbul kebiasaan berdiri dalam pembacaan sebagai bentuk penghormatan.
Pandangan ini jelas tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an maupun hadis sahih. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَاتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدَ اللهِ وَرَسُولَهُ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, Muhammadiyah berpendapat bahwa lebih utama membaca Al-Qur’an dan salawat sahih yang diajarkan Nabi daripada membaca Kitab Barzanji.
Kesimpulan
Membaca salawat adalah ibadah agung yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Ada banyak waktu utama untuk bersalawat, seperti setelah azan, malam Jumat, dan dalam doa. Kitab Barzanji dinilai mengandung pujian yang berlebihan dan tidak berdasar dalil sahih. Muhammadiyah menganjurkan umat Islam fokus membaca Al-Qur’an dan salawat sahih yang diriwayatkan langsung dari Nabi Muhammad SAW.
