*)Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
Al-Qur’an mengajarkan bahwa beragama bukan bertujuan untuk mendapatkan harta kekayaan agar kehidupan berkecukupan. Beragama yang tepat adalah mendarmabaktikan hidupnya dengan menjalankan syariat untuk mendapatkan keridhaan Sang Pencipta.
Cara beragama untuk mendapatkan kekayaan dan hidup berkecukupan mengingatkan ejekan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad. Mereka mengejek nabi karena bertransaksi di pasar, dan tak memiliki kekayaan melimpah. Mereka menganggap bahwa nabi seharusnya memiliki harta yang banyak dengan memiliki kebun sebagai penopang kebutuhannya. Bagi mereka, hidup apa adanya dan tidak memiliki apa-apa, dipandang tak beragama karena tak memberi manfaat bagi diri dan masyarakatnya secara duniawi.
Beragama Secara Ikhlas
Islam membimbing kaumnya untuk ikhlas dalam beragama dengan taat dan patuh serta tunduk pada Sang Pencipta. Allah sebagai Sang Pencipta akan memberi jaminan hidup terbaik ketika seorang hamba telah berbuat terbaik untuk agamanya. Al-Qur’an memotret cara beragama orang kafir yang sangat materislistik. Dikatakan materialistik, karena beragama menjadikan hidup mapan, kebutuhan hidup tercukupi.
Kalau bisa diilustrasikan, ketika cara beragama harus menguntungkan secara materi, maka dia akan taat dan istiqomah dalam menjalankan agamanya. Namun ketika hidupnya sengsara dan nestapa, maka ditinggalkanlah agamanya. Mereka melepas agama karena dipandang tak menguntungkan secara materi. Hal ini dijelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖ ۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Ĥajj : 11)
Cara beragama seperti ini sangat merugikannya baik di dunia maupun di akherat. Dikatakan rugi karena beragama ukurannya materi. Banyak umat terdahulu tetap berpegang teguh dengan agamanya ketika hidupnya sangat sederhana. Bahkan hidupnya terancam dengan berbagai permusuhan dari para pembencinya. Para Nabi hidup dalam kesederhanaan dan banyak ditimbah cobaan dan musibah. Tetapi mereka sabar menjalaninya. Mereka pun tercatat hidupnya mulia di dunia dan akherat.
Kehidupan Nabi Muhammad sangat bersahaja, tak berlimpah harta kekayaan dan tak hidup penuh kemewahan. Inilah yang mendatangkan ejekan orang kafir, sebagaimana yang digambarkan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَا ۚ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا
Artinya:
atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata, “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.” (QS. Al-Furqān : 8)
Beragama : Berkorban
Dakam pandangan Islam, cara beragama bukan bersifat pasif dan hanya menerima pemberian, tetapi bersifat aktif dan rela berkorban. Al-Qur’an menggambarkan cara beragama yang benar sebagaimana dilakukan oleh orang arab Badui. Mereka berkorban dengan mengeluarkan hartanya. Hal ini sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Al-Qur’an mengilustrasikan hal itu sebagaimana firman-Nya :
وَمِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ مَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَٰتٍ عِندَ ٱللَّهِ وَصَلَوَٰتِ ٱلرَّسُولِ ۚ أَلَآ إِنَّهَا قُرۡبَةٞ لَّهُمۡ ۚ سَيُدۡخِلُهُمُ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
Artinya:
Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 99)
Apa yang dilakukan dengan mengorbankan apa yang dimilikinya merupakan upaya memaksimalkan diri untuk berkorban kepada agamanya. Dengan berkorban maksimal, maka Tuhannya akan membalasnya dan melipatgandakan amal kebaikannya. Di dunia memang terlihat hidup sederhana, tetapi dia berharap hidup mulia di akherat dengan menetap di surga.
Itulah cara beragama yanag benar, dimana hidupnya dipergunakan untuk berbuat ketaatan sebagaimana yang diperintahkan oleh agamanya. Berbagai amalan kebaikan seperti shalat, berpuasa, haji dan bersedekah serta berjuang di jalan Allah, dilakukan dan tidak dipandang perbuatan sia-sia, buang-buang waktu, tetapi dipandang sebagai upaya sadar mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Ketika hubungannya dekat, maka Tuhannya akan memberikan yang terbaik dalam kehidupan di dunia, dan di akherat akan digolongkan sebagai manusia mulia dengan berkedudukan tinggi di surga.
Cara beragama inilah yang benar. Hal ini berbeda dengan cara beragama orang-orang kafir, yang menganggap bahwa apa yang dikeluarkan dari tenaga atau hartanya sebagai sebuah kerugian dan marabahaya. Mereka berkeyakinan bahwa harta yang mereka keluarkan untuk agamanya hanya buang-buang harta, dan akan membuatnya miskin serta hidup terancam berkekurangan. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَمِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ مَن يَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ مَغۡرَمٗا وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ ٱلدَّوَآئِرَ ۚ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ
Artinya:
Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah : 98). (*)
Surabaya, 15 Agustus 2025.
