Dalam sebuah talk show, Bill Gates pernah ditanya oleh seorang peserta, “Sekarang Anda adalah orang terkaya di dunia. Menurut Anda, adakah orang yang lebih kaya dari Anda?”
Bill Gates terdiam sejenak, lalu menjawab dengan sebuah kisah. “Suatu hari, aku berada di bandara. Seorang bocah kulit hitam menjajakan koran. Aku menghampirinya dan mengambil satu koran. Tapi aku baru sadar, aku tidak membawa uang pecahan. Melihat itu, bocah itu berkata sambil tersenyum ramah, ‘Ambil saja korannya, Pak. Gratis untuk Anda.’ Aku pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih.”
Beberapa waktu kemudian, aku kembali ke bandara yang sama. Dan aku melihat bocah itu lagi. Aku menghampirinya, ingin membeli koran. Tapi lagi-lagi aku tidak membawa uang kecil. Sekali lagi, dia memberikannya secara cuma-cuma sambil tersenyum. Aku penasaran dan bertanya, ‘Apakah kamu memberikan koran gratis kepada semua orang yang tidak bisa membayar?’
Ia menjawab, ‘Iya, Pak. Kalau seseorang kesulitan membayar, saya akan memberikannya secara cuma-cuma.’
Aku kembali bertanya, ‘Mengapa kamu melakukannya?’ Dan jawabannya membuatku terpaku, ‘Karena aku merasa bahagia melakukannya. Setiap kali aku membantu orang, aku merasa damai.'”\
Ucapan sederhana itu tertanam kuat dalam ingatanku. Tahun demi tahun berlalu. Bisnisku tumbuh besar. Aku dianggap menjadi orang terkaya di dunia oleh banyak orang. Tapi ingatanku tak pernah melupakan bocah penjual koran itu.
Maka, aku membentuk tim untuk mencarinya. Kami menelusuri bandara, tapi ia sudah tidak ada di sana. Setelah sekian lama, timku menemukannya. Ia bekerja sebagai penjaga di sebuah gedung opera.
Aku memintanya datang ke kantorku. Ketika ia masuk ke ruang kerjaku, aku bertanya, “Apakah kamu masih ingat aku?”
Ia tersenyum, “Tentu saja. Siapa yang tak kenal Bill Gates? Tapi lebih dari itu, aku tak pernah lupa momen ketika kau menerima koran dariku dengan penuh hormat dan ucapan terima kasih.”
Aku pun berkata, “Hari ini aku ingin membalas kebaikanmu. Katakan apa yang kamu butuhkan.”
Namun dengan tenang ia menjawab, “Tidak, Tuan. Aku tidak butuh apa-apa.”
Aku mendesak, “Tolonglah, izinkan aku membalas kebaikanmu.”
Dia memandangku dan berkata, “Tuan, Tuan tidak akan bisa membalas kebaikan saya. Saat itu, saya memberi koran kepada Tuan dalam kondisi saya miskin. Saya memberikannya dengan hati yang ikhlas dan penuh kedamaian. Tapi hari ini, Tuan ingin membalas kebaikan itu dalam kondisi sebagai orang terkaya di dunia. Maka, kebaikan itu tidak bisa dibalas, Tuan.”
Sekali lagi, kata-katanya menggetarkan hatiku. Dan di saat itulah aku sadar bahwa “Dia lebih kaya dariku”.
Seandainya ditafsirkan dengan dengan ayat Al-Quran, maka inilah keajaiban dari firman Allah: “Jazā’ul ihsāni illal-ihsān”, “(Tidak ada) Balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60).
Berbagi di saat lapang dan kaya itu hal biasa. Tapi, berbagi di saat sempit, saat kita sendiri kekurangan, itulah kebesaran hati yang sesungguhnya. Itulah tanda ketakwaan yang sejati. Sebagaimana Allah tegaskan, “…dan orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…” (QS. Ali Imran: 134)
Semoga kisah ini menginspirasi kita semua. Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa tulus kita memberi. Bahkan, ketika kita sendiri dalam kekurangan. Itulah kekayaan sejati. Wallahu a’lamu.
