Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, sering tersebar di tengah masyarakat sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللَّهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيرَانِ
“Barang siapa bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka.”
Ungkapan ini sangat populer dan kerap dijadikan motivasi dalam ceramah, khutbah, dan media sosial. Banyak kaum muslimin merasa semakin bersemangat menyambut Ramadan dengan mendengar kalimat tersebut. Namun para ulama ahli hadis telah menjelaskan bahwa riwayat ini tidak memiliki sanad yang sahih dan tergolong hadits palsu (mawḍū‘).
Walaupun demikian, semangat bergembira menyambut Ramadan tetap memiliki dasar kuat dalam hadis-hadis shahih yang menggambarkan besarnya rahmat Allah pada bulan mulia tersebut. Karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami mana riwayat yang tidak sahih dan mana ajaran yang benar-benar bersumber dari Nabi ﷺ.
Hadits “Gembira Ramadan”: Riwayat yang Tidak Sahih
Riwayat di atas banyak ditemukan dalam kitab Dzurratun Nāṣiḥīn, sebuah kitab nasihat yang populer di tengah masyarakat. Para ulama menjelaskan bahwa kitab ini berisi banyak kisah dan riwayat yang tidak semuanya memiliki sanad kuat.
Al-‘Allamah al-‘Ajlūnī dalam Kasyf al-Khafā’ menegaskan bahwa hadits tersebut tidak memiliki asal-usul yang sahih dalam kitab-kitab hadits mu‘tabar.¹
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani juga memasukkannya ke dalam deretan hadis palsu, karena tidak ditemukan sanad yang dapat dipertanggungjawabkan.²
Para ulama hadis sangat tegas dalam menjaga keaslian sabda Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan peringatan keras:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”³
Hadis mutawatir ini menjadi landasan penting bagi para ulama untuk berhati-hati dalam menyebarkan riwayat.
Mengapa Hadis Lemah Mudah Tersebar?
Dalam sejarah dakwah Islam, sebagian riwayat lemah atau palsu muncul dalam konteks targhīb wa tarhīb (motivasi dan peringatan). Sebagian penceramah pada masa lalu menukil riwayat tanpa penelitian sanad secara ketat untuk menggugah semangat ibadah.
Imam Ibn al-Jawzi dalam al-Mawḍū‘āt menjelaskan, sebagian orang bahkan membuat hadis palsu dengan alasan mendorong manusia berbuat baik. Namun niat tersebut tetap tidak dibenarkan, karena berdusta atas nama Nabi ﷺ termasuk dosa besar.⁴
Karena itu, ulama Ahlus Sunnah menegaskan: kebaikan tidak boleh dibangun di atas riwayat yang tidak benar.
Spirit Sunnah yang Shahih tentang Ramadan
Walaupun hadits “bergembira Ramadan” tidak sahih, makna umum kegembiraan menyambut Ramadan justru didukung oleh hadits-hadits shahih. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”⁵
Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah musim rahmat dan ampunan. Terbukanya pintu surga melambangkan melimpahnya peluang kebaikan, sementara tertutupnya pintu neraka menandakan luasnya ampunan Allah.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”⁶
Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah kesempatan emas penghapusan dosa. Orang beriman tentu akan bergembira ketika datang peluang besar untuk mendapatkan ampunan Allah.
Kegembiraan yang Bernilai Ibadah
Para ulama menjelaskan bahwa kegembiraan menyambut Ramadan merupakan tanda iman. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa para salaf berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima.⁷
Kegembiraan ini bukan sekadar tradisi, tetapi ekspresi iman dan harapan. Kegembiraan yang benar tampak dalam:
Taubat sebelum Ramadhan
Semangat memperbanyak ibadah
Kerinduan kepada Al-Qur’an
Tekad memperbaiki diri
Jika seseorang bergembira karena peluang mendekat kepada Allah, maka kegembiraan itu sendiri bernilai ibadah.
Bijak dalam Menyebarkan Hadis
Menggunakan hadis palsu untuk motivasi dakwah bukanlah metode yang dibenarkan. Islam telah sempurna dengan dalil-dalil shahih yang kuat. Imam Muslim dalam mukadimah Shahih-nya menegaskan larangan meriwayatkan hadits lemah tanpa penjelasan.⁸
Karena itu, para da‘i dan penulis hendaknya memastikan setiap riwayat yang disampaikan benar-benar berasal dari Nabi ﷺ. Dakwah yang jujur secara ilmiah akan lebih berkah dan terpercaya.
Hadis “Barang siapa bergembira dengan datangnya Ramadan diharamkan dari neraka” tidak memiliki dasar yang sahih dan termasuk hadits palsu. Umat Islam hendaknya berhati-hati dalam menisbatkan perkataan kepada Nabi ﷺ.
Namun demikian, semangat bergembira menyambut Ramadan tetap merupakan sikap yang terpuji. Hadis-hadis shahih telah menggambarkan Ramadan sebagai bulan terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka, dan luasnya ampunan Allah.
Menyambut Ramadan dengan hati gembira, ilmu yang benar, dan amal yang sungguh-sungguh adalah bentuk penghayatan terhadap rahmat Allah yang agung. Dengan ilmu yang lurus, kegembiraan kita bukan hanya emosional, tetapi menjadi bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya. (*)
Catatan Kaki
1. Ismail bin Muhammad al-‘Ajlūnī, Kasyf al-Khafā’ wa Muzīl al-Ilbās (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), 2:87.
2. Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahādīṡ al-Ḍa‘īfah wa al-Mawḍū‘ah (Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 1992), no. 871.
3. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-‘Ilm; Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Muqaddimah.
4. Ibn al-Jawzi, al-Mawḍū‘āt (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 1:51.
5. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1899; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1079.
6. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 38; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 760.
7. Ibn Rajab al-Hanbali, Laṭā’if al-Ma‘ārif (Beirut: Dār Ibn Kathir, 1996), 148.
8. Muslim bin al-Hajjaj, Muqaddimah Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1991), 1:8.
