Bersihkan Dulu Kaca Jendela Rumahmu

Bersihkan Dulu Kaca Jendela Rumahmu
*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Ada sepasang suami istri yang baru pindah ke rumah baru. Rumah tersebut dibeli pasca mereka menikah. Sebelum memutuskan menikah, mereka sepakat untuk memiliki rumah sendiri. Rumah tersebut ada di area perumahan dan di depannya ada rumah tetangga mereka.

Pada pagi harinya, saat sedang menyiapkan sarapan pagi, sang istri berkata kepada suaminya seraya melihat keluar dari balik jendela rumahnya: “Mas, lihatlah cucian tetangga kita itu, tidak bersih dan masih kotor di sana sini. Pasti mereka mencucinya dengan menggunakan mesin cuci yang sangat murah”.

Sang suami hanya diam saja, tidak menanggapi. Hampir setiap melihat cucian tetangganya, sang istri selalu mengatakan hal yang sama. Berkali-kali.

Sebulan kemudian, sang istri tercengang dan terkejut melihat cucian tetangganya sangat bersih. Tidak seperti pada hari-hari sebelumnya yang selalu kelihatan tidak bersih olehnya, sehingga sering ngomel sendiri. Dia pun melaporkan kepada suaminya perihal yang dia saksikan: ”Mas, sepertinya tetangga kita telah belajar dan sadar bagaimana cara mencuci yang bersih dan akhirnya mereka membeli mesin cuci yang bagus, tidak seperti sebelumnya yang jelek dan murah.”

“Wahai istriku, kata suaminya. Aku tadi bangun pagi-pagi sekali dan membersihkan kaca jendela rumah kita, yang sering kamu gunakan melihat cucian tetangga kita itu!”

Sebelum kita menilai orang lain, berkacalah lebih dulu. Lihatlah diri kita sendiri. Jika kita sendiri punya aib dan kekurangan, fokuslah memperbaiki aib dan kekurangan kita terlebih dulu. Bukan malah sibuk melihat aib orang lain.

Jangan sampai gajah di depan pelupuk mata tidak kelihatan, sedangkan semut di seberang lautan kelihatan jelas. Pun jangan pernah langsung main vonis melihat orang lain secara serampangan tanpa mengonfirmasi terlebih dulu kebenarannya. Dikira orang lain yang kotor, padahal hati kitalah yang berdebu.

Sebelum mengomentari perbuatan orang lain, komentari terlebih dulu perbuatan kita sendiri. Sebelum menilai orang lain, nilailah diri kita lebih dulu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegaskan, ibda’ bi nafsik, mulailah dari dirimu sendiri.

Berprasangka baik jika berhubungan dengan orang lain, husnuzan, sebagaimana Allah menegaskan,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, ….”
(QS Al-Hujurat : 12)

Pun, dalam salah satu hadis riwayat Bukhari Muslim, Nabi tegas melarang suuzan,
Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya ucapan.”

Wallahu a’lam bishshawab

Tinggalkan Balasan

Search