Bersihkan Hati Sambut Ramadan yang Suci

*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Anggota MT PCM Merden, Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Bulan Ramadan merupakan bulan suci bagi umat Islam. Karena itu, kedatangannya juga harus disambut dengan hati yang suci. Mengapa dengan hati yang suci? Agar Ramadan benar-benar dapat diresapi dalam lubuk hati yang paling dalam sehingga amal ibadah yang dilakukannya dijalankan dengan khusuk.

Ramadan bukan sekedar rutinitas tahunan. Namun di dalamnya memiliki fadilah yang luar biasa. Bagi orang yang beriman, Ramadan merupakan bulan istimewa yang sangat dinanti-nantikan. Maka kedatangannya mesti disambut dengan gembira. Hadirnya Ramadan juga sebagai berkah bagi yang mengisinya dengan amal ibadah.

Ramadan adalah tamu agung yang membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Namun, seorang tamu mulia tidak akan sudi masuk ke dalam rumah yang kotor dan berbau busuk. Rumah tersebut adalah hati kita. Banyak dari kita terjebak dalam persiapan fisik seperti menyetok bahan makanan, membeli pakaian baru, atau mengatur jadwal buka puasa bersama. Padahal, esensi dari puasa adalah taqwa, dan takhta dari taqwa itu berada di dalam hati.

Tanpa pembersihan hati (tazkiyatun nafs), Ramadan hanya akan menjadi rutinitas menahan lapar dan dahaga yang melelahkan tanpa bekas spiritual yang berarti. Ramadan seakan menjadi seremonial tahunan yang lumrah dijalani tanpa membawa perubahan terhadap pembentukan karakter dan akhlak mulia.

Allah Swt menegaskan bahwa pada hari kiamat nanti, harta, jabatan, kedudukan dan keturunan yang kerap dibanggakan tidak ada gunanya. Satu-satunya aset yang berharga di hadapan Allah Swt adalah hati yang bersih (Qalbun Salim). Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam al Qur`an surat Asy-Syu’ara ayat 88-89:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya: “Yaitu pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).

Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari kesyirikan, keraguan, kebencian, dan penyakit-penyakit batin seperti sombong (kibr), dengki, pamer (riya), ghibah, fitnah dan lain sebagainya. Membersihkan hati sebelum Ramadan berarti mengosongkan “ruang” hati dari dosa dan perilaku buruk yang mengotorinya agar siap diisi dengan cahaya wahyu dan keberkahan puasa.

Dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kondisi fisik dan perbuatan seseorang sangat bergantung pada segumpal daging yang bernama hati. Berikut sabda Nabi saw:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Jika hati kita masih penuh dengan dendam kepada sesama atau penyakit hati lainnya, maka anggota tubuh akan terasa berat untuk menjalankan ketaatan di bulan Ramadan. Salat tarawih akan terasa lama, dan sedekah akan terasa berat.

Hati yang kotor cenderung menggerakkan seseorang pada perbuatan maksiat, hura-hura dan menuruti hawa nafsu. Orang yang hatinya kotor malas beribadah serta enggan berbuat baik. Hati yang kotor tersebut menutupi kebenaran sehingga gelap terhadap petunjuk dan jauh dari keberkahan.

Salah satu alasan terkuat mengapa kita harus membersihkan hati (terutama dari kebencian) sebelum Ramadan adalah agar doa dan ampunan kita tidak terhambat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa pada waktu-waktu mulia, pintu surga dibuka, namun ada orang yang ampunannya ditangguhkan. Hal ini sebagaimana dinyakan dalam sabdanya:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Artinya: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun akan diampuni, kecuali orang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai’.” (HR. Muslim).

Bayangkan jika kita memasuki Ramadan dalam keadaan “ditangguhkan” ampunannya hanya karena gengsi untuk meminta maaf atau memaafkan. Maka sangat rugi sekali. Oleh karenanya, mari bersihkan hati kita agar doa dan ampunannya diterima oleh Allah Swt.

Para ulama salaf sangat memperhatikan kondisi hati melebihi persiapan lahiriah. Sebut saja Ibnu Rajab Al-Hanbali. Ia menekankan bagaimana mungkin seorang hamba bisa mendapatkan manisnya iman dan kekhusyukan puasa jika di dalam hatinya masih bersarang kecintaan pada dunia dan penyakit-penyakit batin.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah Shaum al-Khusus al-Khusus (puasa yang paling khusus), yaitu puasanya hati dari pikiran-pikiran rendah dan urusan duniawi, serta memfokuskan hati sepenuhnya kepada Allah Swt.

Mengingat begiru pentingnya menjaga hati dari dosa dan penyakit hati, ada beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan diantaranya;

  1. Taubat di sini maksudnya taubatan nasuha yakni mengakui dosa, menyesal, dan berjanji tidak mengulangi.
  2. memaafkan secara total dalam arti melepaskan beban dendam. menghubungi kerabat atau kawan untuk menyambung silaturahmi yang putus,
  3. memperbanyak Istighfar dan
  4. muhasabah (introspeksi) yaitu merenungi apa saja kotoran yang selama setahun ini kita masukkan ke dalam hati.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa Ramadan adalah madrasah ruhani. Jika kita memulainya dengan hati yang bersih, maka setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca akan meresap ke dalam jiwa, dan setiap rakaat salat akan membawa ketenangan. Jangan biarkan Ramadan tahun ini lewat begitu saja sebagai rutinitas tahunan yang hambar.

Untuk itu, mari kita bersihkan ruang hati kita sekarang juga, agar saat rahmat Allah Swt turun di bulan Ramadan, hati kita siap menampung seluruh keberkahannya. Semoga!

 

Tinggalkan Balasan

Search