*)Oleh: M.Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
Kotoran yang utama dan paling pertama yang harus dibersihkan adalah kotoran ruh. Apakah itu kotoran ruh. Kotoran ruh bukanlah sesuatu yang tampak, melainkan: sifat-sifat tercela, pikiran negatif, kebiasaan lalai
1. Merasa diri paling hebat
2. Merasa diri paling baik
3. Merasa diri paling benar
1. Merasa Diri Paling Hebat: Cermin Keangkuhan yang Perlu Dihancurkan
Perasaan “aku paling hebat” adalah bisikan halus dari kesombongan yang bisa merusak ruh, menutup pintu ilmu, dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Dalam Islam, kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya—karena ia menyembunyikan diri di balik pencapaian, status, bahkan amal shalih.
Apa yang Tersembunyi di Balik Perasaan Paling Hebat?
• Takjub pada diri sendiri (): merasa berhasil karena usaha pribadi, bukan karena izin Allah.
• Meremehkan orang lain: membandingkan dan menilai rendah kontribusi atau kelebihan
orang lain.
• Menutup diri dari nasihat: enggan belajar, enggan dikritik, merasa sudah cukup.
Cahaya Al-Qur’an dan Hadis:
QS. Al-Isro’ : 37
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.
HR. Muslim :
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.”
2. Merasa paling baik
Perasaan “aku paling baik” bisa muncul dari niat yang sehat—seperti ingin menjadi teladan atau menjaga integritas. Tapi jika tidak disaring dengan keikhlasan dan muhasabah, ia bisa berubah menjadi bentuk kesombongan yang halus: merasa lebih suci, lebih benar, atau lebih layak daripada orang lain.
Tanda-Tanda Bahaya dalam Hati
• Merasa amal lebih ikhlas dari orang lain
• Enggan belajar dari yang dianggap “kurang”
• Mudah menghakimi niat dan tindakan orang lain
• Menganggap diri sebagai standar kebaikan
Cahaya Al-Qur’an dan hikmah para salaf:
QS. An-Najm : 32
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ
Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.
Hikmah para salaf :
“Jika engkau melihat orang lain berbuat dosa, jangan merasa lebih baik darinya. Bisa jadi ia bertaubat dan engkau terjebak dalam ujub.”
3. Mersa diri paling benar
Perasaan “merasa diri paling benar” bisa muncul dari semangat menjaga prinsip, tapi jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati dan keterbukaan ia bisa berubah menjadi bentuk kesombongan intelektual yang menutup pintu dialog, hikmah, dan pertumbuhan ruhani.
Islam mengajarkan kita untuk keseimbangan yakin tanpa menghakimi :
* Berpegang teguh pada kebenaran yang diyakini berdasarkan ilmu dan dalil.
* Tetap rendah hati karena kebenaran sejati milik Allah, bukan milik individu.
* Bersikap adil dan santun dalam menyampaikan pendapat dan menerima perbedaan.
Cahaya Al-Qur’an :
QS. Al-Isro’ : 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
“Pendapat kamu benar, tapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tapi mungkin benar.”
(Imam Syafi’i). (*)
