Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam, Koding Kecerdasan Artifisial (AI), dan Penguatan Pendidikan Karakter.
Kali ini, kegiatan tersebut menyasar Region 2 Jawa Timur dan dilaksanakan di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Jalan Ketintang Wiyata, Surabaya. Bimtek akan berlangsung selama lima hari, mulai Rabu hingga Ahad (1–5 Oktober 2025) dan diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari para guru PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK Muhammadiyah se-Jawa Timur.
Bimtek ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan zaman, terutama di era digital dan kecerdasan buatan. Selain pembelajaran tentang Koding dan AI, peserta juga mendapatkan penguatan karakter dan kompetensi pedagogik melalui materi Growth Mindset, yang menjadi salah satu sorotan utama dalam sesi pembelajaran daring (zoom meeting).
Materi ini disampaikan langsung oleh Prof. Dr. Suyanto, M.Pd., Penasihat Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, yang terhubung secara virtual dari pelaksanaan Bimtek serupa di Region Bengkulu.
Dalam pemaparannya, Prof. Suyanto menekankan bahwa Growth Mindset adalah fondasi penting dalam proses pembelajaran yang mendalam dan berkelanjutan, terutama bagi seorang guru.
“Growth Mindset adalah sebuah kreativitas seorang guru dalam mengembangkan kemampuan secara kritis, komunikatif, kreatif dan kolaboratif dalam mengembangkan pembelajaran,” jelasnya.
Menurutnya, guru perlu membangun pola pikir yang terbuka terhadap perubahan, mau menerima tantangan, dan senantiasa tumbuh dalam berbagai aspek.
“Pikiran harus selalu tumbuh dan berkembang. Jangan membatasi diri untuk terus belajar dan berusaha untuk menjadi guru yang menarik,” imbuhnya.
Rumus 4C dalam Growth Mindset
Prof. Suyanto memperkenalkan rumus 4C sebagai prinsip utama dalam membangun Growth Mindset, yaitu:
Critical Thinking (berpikir kritis),
Communicative (komunikatif),
Creative (kreatif), dan
Collaborative (kolaboratif).
Guru yang mampu menerapkan keempat aspek tersebut diyakini akan menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, dan efektif dalam mentransformasikan proses belajar di kelas.
“Seorang guru yang memiliki Growth Mindset yang baik akan menerima perubahan, menerima kritik, menerima sesuatu yang baru, menemukan sesuatu yang baru, tidak membatasi diri dengan perubahan-perubahan,” tandasnya.
Lebih lanjut, Prof. Suyanto juga menyampaikan bahwa guru yang memiliki Growth Mindset akan mampu menciptakan pembelajaran yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga memberikan pengalaman emosional dan nilai karakter bagi siswa.
“Hasil dari Growth Mindset maka pembelajaran akan menghasilkan kesadaran, bermakna dan menggembirakan bagi anak didiknya,” pungkasnya.(sholihin fanani)
