Jika Anda berkesempatan melangkah ke trotoar kota-kota besar di China, ada satu pemandangan yang hampir tidak pernah absen, yakni deretan sepeda berwarna-warni yang terparkir rapi berbaris sepanjang jalan. Ada yang berwarna kuning cerah dari Meituan, biru segar milik HelloBike, hingga hijau muda khas Qingju.
Kehadiran ribuan roda dua ini bukan sekadar pemandangan acak, melainkan potret nyata dari denyut nadi budaya mobilitas masyarakat perkotaan Negeri Tirai Bambu.
Setiap pagi, terlihat bagaimana sepeda telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Warga dari berbagai rentang usia—mulai dari lansia yang hendak pergi ke pasar tradisional, anak sekolah, hingga pekerja kantoran berpakaian rapi—tampak santai mengayuh sepeda. Fenomena ini menandai babak baru dari perjalanan panjang hubungan masyarakat China dengan sepeda.
Hubungan China dan sepeda bukanlah cerita baru. Pada era 1970-an hingga 1980-an, China sangat terkenal dengan julukan “The Kingdom of Bicycles” atau Kerajaan Sepeda. Saat itu, sepeda adalah moda transportasi utama sekaligus simbol status sosial dan kejayaan ekonomi keluarga. Hampir setiap rumah tangga memiliki setidaknya satu unit sepeda pancal.

Memasuki era digital dan meningkatnya kesadaran lingkungan, sepeda bangkit kembali. Kali ini, ia hadir dengan wajah yang jauh lebih modern, canggih, dan ramah lingkungan.
Era Bike-Sharing dan Kepraktisan Kode QR
Kebangkitan kembali budaya bersepeda ini dipicu secara masif oleh revolusi bike-sharing berbasis aplikasi ponsel. Tidak perlu lagi membeli atau memikirkan risiko kehilangan, warga cukup memindai kode QR (scan barcode) yang ada di bagian belakang sepeda menggunakan ponsel pintar mereka. Sistem kunci otomatis akan terbuka, dan sepeda siap dikayuh.
Bagi warga lokal, layanan ini menjadi solusi transportasi murah, sehat, dan sangat praktis. Sepeda sewaan digital ini berperan penting sebagai moda penyambung (first and last mile) yang menghubungkan area perumahan atau perkantoran dengan moda transportasi publik utama seperti bus dan kereta bawah tanah (MRT).
Selain sepeda pancal konvensional, keberadaan sepeda listrik (E-Bike) juga makin diminati di berbagai kota. E-Bike menjadi solusi favorit bagi mereka yang ingin menempuh jarak pendek hingga menengah tanpa harus menguras banyak tenaga, namun tetap ekonomis dan bebas dari jebakan kemacetan.
Kenyamanan bersepeda di China tak lepas dari dukungan penuh pemerintah setempat yang gencar membangun infrastruktur modern. Di Beijing saja, terdapat lebih dari 3.200 kilometer jalur khusus pesepeda yang dilengkapi dengan lampu lalu lintas mini, marka jalan yang jelas, serta jalur fisik yang aman terpisah dari kendaraan bermotor.
Salah satu inovasi infrastruktur yang paling ikonis adalah “jalan raya khusus sepeda” sepanjang 6,5 kilometer yang menghubungkan kawasan pemukiman Huilongguan dengan pusat bisnis Shangdi. Jalur melayang yang bebas dari mobil ini bahkan dilengkapi atap peneduh di beberapa bagian untuk melindungi pesepeda dari hujan dan salju.
Meskipun lalu lintas perkotaan tetap menuntut kewaspadaan tinggi, integrasi antara teknologi bike-sharing, sistem transportasi umum MRT, dan jalur khusus yang aman telah mengembalikan identitas China sebagai Kerajaan Sepeda.
Bersepeda di China kini bukan lagi nostalgia masa lalu, melainkan simbol gaya hidup urban yang sehat, efisien, dan berorientasi pada masa depan. || sholihin fanani
