Bukan Hanya Sukses, tapi Berkah dalam Hidup

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
www.majelistabligh.id -

Banyak orang tua di dunia ini mengatakan kepada anak-anaknya, “Nak, aku ingin kamu menjadi seorang dokter, arsitek, pengusaha sukses, atau profesi hebat lainnya.”

Namun, betapa jarangnya kita mendengar seorang ayah atau ibu berkata, “Nak, aku ingin engkau menjadi pribadi yang penuh berkah di mana pun engkau berada.”

Padahal, harapan seperti inilah yang sejatinya paling layak kita renungkan dalam-dalam. Berkah bukan sekadar kata; ia adalah anugerah luar biasa dari Allah yang menghadirkan kebaikan, ketentraman, dan manfaat yang terus bertambah, meski dengan sarana yang terbatas sekalipun.

Keberkahan membawa pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan kita:

  • Jika keberkahan ada pada harta, maka harta itu akan bertambah manfaatnya, meskipun jumlahnya mungkin sedikit.
  • Jika keberkahan ada pada anak-anak kita, maka mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salihah, membawa kebaikan bagi keluarga dan umat.
  • Jika keberkahan ada pada tubuh, maka tubuh akan senantiasa diberi kekuatan untuk beribadah dan beramal.
  • Jika keberkahan ada pada waktu, maka waktu itu akan menjadi penuh makna dan produktif, walaupun terasa singkat.
  • Jika keberkahan ada pada hati, maka hati itu akan dipenuhi kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur.

Maka, sudah semestinya kita banyak-banyak memohon keberkahan kepada Allah: meminta keberkahan dalam harta, waktu, ilmu, usia, dan tentu saja dalam anak keturunan kita.

Di sisi lain, ada 13 permintaan dalam hati anak-anak kita—yang sering kali tidak pernah terucap dengan kata-kata, tetapi mereka rasakan dalam diamnya:

  • Cintailah aku dengan segenap hatimu, tanpa syarat dan tanpa batas.
  • Janganlah memarahi atau mempermalukan aku di depan banyak orang. Bimbinglah aku dengan penuh hormat dan kasih sayang.
  • Jangan pernah membandingkan aku dengan saudara-saudaraku, teman-temanku, atau siapa pun. Aku unik dengan segala kelebihan dan kekuranganku.
  • Ingatlah, aku adalah cermin dari dirimu. Sikap, kata-kata, dan perilakumu adalah gambaran yang akan aku tiru.
  • Setiap hari aku tumbuh dan belajar. Tolong, jangan terus memperlakukan aku seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa.
  • Berikan aku kesempatan untuk mencoba dan salah. Lalu tuntunlah aku dengan sabar agar aku belajar dari kesalahanku.
  • Tolong jangan terus-menerus mengungkit kesalahan masa laluku. Maafkan dan bimbing aku untuk menjadi lebih baik ke depannya.
  • Aku adalah ladang pahala untukmu. Didikanmu kepadaku adalah investasi akhiratmu.
  • Saat engkau marah, janganlah kau ucapkan kata-kata buruk terhadapku. Ingatlah, ucapan orang tua adalah doa.
  • Jangan sekadar melarangku dengan kata “jangan,” tetapi berilah aku penjelasan yang masuk akal. Ajarkan aku memahami baik dan buruk dengan kesadaran.
  • Jangan membentakku setiap hari. Bentakanmu bisa merusak rasa percaya diriku dan mengaburkan pikiranku.
  • Jangan jadikan aku pelampiasan atas masalahmu. Jika engkau kesal kepada orang lain, jangan biarkan amarah itu menimpa diriku yang tak mengerti apa-apa.
  • Yang paling aku butuhkan adalah kasih sayangmu. Aku butuh merasa bahwa aku disayangi dan dicintai, karena engkau adalah dunia dan masa depanku.

***

Semoga kita sebagai orang tua dapat lebih memahami bahwa menjadi anak yang “berkah” jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi anak yang “hebat” menurut ukuran dunia.

Keberkahan adalah kunci kebahagiaan sejati yang tak lekang oleh waktu.

Mari berdoa dan berikhtiar, bukan hanya untuk kesuksesan lahiriah anak-anak kita, tapi terutama untuk keberkahan hidup mereka di dunia dan akhirat.

Karena sesungguhnya, yang terpenting adalah keberkahannya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search