Buku Pelukan Ramadan, Cermin Keheningan dan Kehangatan yang Membelai Jiwa

www.majelistabligh.id -

Buku antologi puisi bertajuk Pelukan Ramadan yang ditulis oleh Fathan Faris Saputro dan Nurul Iftiasanti mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Risma Dewi, Ketua Bidang Immawati Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalimantan Tengah. Wanita kelahiran Palangka Raya, 12 Maret 2002 ini mengungkapkan bahwa buku tersebut tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga pelukan emosional yang terasa hangat selama bulan suci.

Menurut Risma, Pelukan Ramadan menyajikan refleksi spiritual dan emosional yang sangat dalam. Ia menilai bahwa pengalaman yang dituliskan dalam buku tersebut berhasil merepresentasikan kegelisahan sekaligus harapan yang juga ia rasakan selama bulan Ramadan. “Buku Pelukan Ramadan mampu memutar balik perasaan yang sebelumnya saya rasakan. Banyak hal dan kenangan yang dilalui selama bulan Ramadan, dan buku ini mengemas moment-moment itu dengan sangat apik dari berbagai sudut pandang,” ujarnya pada Jumat (20/6/2025).

Salah satu puisi yang paling menyentuh Risma secara emosional berjudul Hidangan Buka Puasa dari Ibu. Bait-bait dalam puisi tersebut berhasil membangkitkan kenangan indahnya bersama sang ibu.

“Saya sedikit meneteskan air mata ketika membaca bait demi bait kata yang ada di dalamnya. Ibu adalah sosok yang sangat ditunggu pada saat Ramadan, dan hidangannya pun penuh makna,” tutur Risma penuh haru.

Ia menambahkan, Ramadan tahun ini menjadi momen untuk lebih bersyukur karena masih diberi kesempatan menikmati hidangan berbuka dari sang ibu.

“Apapun itu, ambil sebaik-baik momen bersama orang tua di bulan Ramadan, karena kita tidak tahu apakah Ramadan berikutnya kita masih bisa merasakannya,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar kumpulan puisi, Pelukan Ramadan bagi Risma adalah bentuk nyata dari pelukan itu sendiri—pengingat, penguat, sekaligus penenang.

“Buku ini sangat terasa pelukannya. Bahwa kita di bulan Ramadan ini tidak sendirian. Banyak yang merasakan sedih, duka, atau keterbatasan, tapi tetap kuat menjalani. Buku ini menjadi pelajaran yang nyata, bukan karangan fiksi, tapi kisah yang dekat dan pernah dialami oleh banyak orang,” jelasnya.

Karya kolaboratif antara Fathan Faris Saputro dan Nurul Iftiasanti ini tidak hanya menyentuh sisi spiritualitas, tetapi juga merekam berbagai dinamika emosional: dari kehangatan keluarga, kesepian yang sarat makna, hingga luka yang dibawa dalam diam. Pelukan Ramadan hadir sebagai karya yang menenangkan sekaligus menggugah—pelukan yang tak hanya dibaca, tapi dirasakan. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search