Tubuh manusia itu mahalnya luar biasa. Suatu hari saya mengantarkan isteri saya periksa ke dokter gigi. Setelah didiagnosis, pak dokter menyarankan untuk memasang gigi implant. Terdengar biasa saja.
Tapi tahukah anda berapa harga satu gigi implant? Satu biji yang bagus harganya ternyata 15 juta. Ini gigi palsu buatan manusia, bukan gigi ciptaan Tuhan. Seandainya gigi kita jumlahnya 30 saja, maka harga gigi kita saja sudah mencapai 450 juta. Itu baru gigi, belum dua mata, telinga kita saat sakit, lidah, bibir, ginjal, dan organ tubuh kita yang lain.
Pada zaman Rasulullah jarang terjadi penyakit degenerative seperti zaman kita sekarang ini. Mengapa demikian? Karena gaya hidup kita yang berbeda. Penyakit degenerative terjadi, karena kita tidak mengatur tubuh, tidak mau mengatur makanan dan kurang menghargai tubuh kita sendiri.
Kita justru lebih sering mengisinya dengan makanan sembarangan atau –dalam bahasa Ustadz dr. Zaidul Akbar—makanan oplosan serta racun yang dikumpulkan dalam perut atau tubuh kita. Kita kemudian gampang mengantuk. Padahal, kata Rasulullah, Islam membutuhkan umat yang kuat, sehat dan tidak mudah mengantuk.
Puasa Ramadan yang dijalankan umat Islam adalah jalan detoksifikasi, pengurangan racun dalam tubuh kita. Puasa sangat baik sebagai proses pembersihan tubuh dari berbagai racun yang masuk ke dalam tubuh kita. Bahkan, puasa bisa memberikan efek anti-aging atau anti-penuaan. Puasa dimaksudkan juga dimaksudkan untuk mengistirahatkan tubuh kita, khususnya perut yang menjadi biang penyakit.
Ramadan adalah detoksifikasi tahunan yang diproyeksikan oleh Islam. Sementara itu, detoksifikasi bulanan adalah ayyamul bidh (setiap tanggal 13,14 dan 15 bulan Hijriyah, meski ada juga yang mengatakan tidak harus pada tanggal itu. Yang penting 3 hari berturut-turut). Detoksifikasi pekanan adalah puasa Senin dan Kamis. Detoksifikasi harian adalah puasa Dawud. Detoksifikasi dadakan terjadi pada puasa-puasa sunah lainnya.
Hiro Shinya, seorang dokter dari Jepang yang tinggal di Amerika menyebutkan dalam bukunya bahwa lapar itu sehat. Dia memberikan kesimpulan bahwa orang-orang yang sering menahan lapar atau berpuasa adalah orang-orang yang sehat karena mereka menahan laju metabolism tubuh mereka.
Secara fisiologis, ketika berpuasa, tubuh diistirahatkan, tidak ada aktifitas metabolism. Secara otomatis, tubuh mencari keusakan dan sel bermasalah. Dengan berpuasa akan terjadoi pembakaran lemak dalam tubuh manusia.
Sebuah hasil penelitian yang dilakukan di College of Medicine, King Saud University, Riyadh, mengungkap fakta bahwa puasa itu, pertama, meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya antibody dan menurunnya kadar lemak dalam darah.
Kedua, puasa melindungi dari pelbagai penyakit dan bahaya obesitas. puasa dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang berasal dari kegemukan, seperti aterosklerosis (radang pada pembuluh darah) dan kencing manis.
Ketiga, puasa mengurangi naiknya natrium dalam darah yang akan berakibat pada meningkatnya resiko darah tinggi.
Keempat, puasa bisa dijadikan sebagai terapi bagi penderita rheumatoid arthritis (jenis peradangan sendi kronis) dan terapi bagi penderita gastritis (radang selaput lender lambung).
Kelima, puasa memperbaiki pencernaan, metabolism kelenjar endrokin, fertilitas pada laki-laki dan perempuan.
Keenam, puasa bisa meningkatkan kecerdasan dan daya ingat, serta bisa memperbaiki sel-sel yang sudah tua dan using, digantikan dengan sel-sel baru yang dibongkar melalui proses perombakan gilkogen. (*)
