Bagi pengelola Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIH) dan perusahaan travel Haji dan Umrah, nama Risma Catering Makkah sudah tidak asing lagi. Sebab, Risma yang asli berasal dari Madura itu dikenal sebagai “Ratu Katering” yang melayani jamaah haji dan umrah khususnya yang berasal dari Indonesia.
Dalam seminggu terakhir ini, nama Risma jadi pembicaraan di kalangan warganet. Sebab ia dengan total mendukung Valen, salah satu akademia dalam ajang pencarian bakat Dangdut Academy di salah satu stasiun televisi. Dukungan itu diberikan dalam bentuk gift Sultan. Bahkan Risma dan suaminya, Abah Zubair, juga memberikan hadiah berupa paket umroh kepada sejumlah peraih juara Dangdut Academy tersebut.
Sukses Risma tidak datang dengan tiba-tiba, tidak pula dilakukan secara instan, juga tidak menggunakan kekuatan orang dalam. Tetapi Risma yang mengenyam pendidikan hanya hingga kelas 5 Sekolah Dasar itu harus ikut orang tuanya menjadi TKW di Arab Saudi. Risma kecil setiap hari berkeliling di sekitar Masjidil Haram untuk menjajakan cemilan dan makanan, meski harus kucing-kucingan dengan Askar. Tentu saja yang ditawari adalah warga Indonesia yang sedang beribadah di Makkah.
“Kalau masalah sedihnya itu banyak banget. Ya namanya kita merintis dari bawah, dari nol waktu itu jualan dari bawah. Saya juga sering lari-lari dikejar-kejar sama Askar gitu kan,” kata Risma, menceritakan kisahnya melalui kanal youtube Khazanah Trans7 Official.
Semangat dan kesabaran Risma dalam meniti bisnisnya mulai menemui titik terang. Bermula dari membantu temannya berdagang, Risma belajar bagaimana menjadi pedagang yang baik. Setelah ia mengetahui cara berjualan, ia memberanikan diri membuka kedai sendiri. Kedai itu awalnya dibuka sebagai warung kopi, berjualan kopi, teh, mi instan dan rebusan telur ayam. Itupun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena peraturan di Arab Saudi yang melarang penjualan makanan secara ilegal.

Otak bisnisnya terus berkembang. Ia memberanikan diri menawarkan beberapa sempel makanan di hotel-hotel Arab Saudi yang di dalamnya banyak jamaah umrah dari Indonesia menginap. Ia menawarkan khusus masakan Indonesia, dan tidak lupa selalu ada kerupuk dalam setiap masakan.
Kegigihan dan semangatnya ternyata membuahkan hasil. Bermula dari satu hotel, lalu dikembangkan ke hotel-hotel lain. Dan saat ini Risma sudah dipercaya oleh beberapa hotel di Makkah untuk mensuplai makanan para jamaah umroh dan haji asal Indonesia. Bukan puluhan atau ratusan, tetapi pesanan sudah mecapai ribuan porsi, dengan menu yang berbeda-beda setiap harinya.
Bunda Risma percaya Allah akan selalu membantu hambanya jika mau terus berusaha. “Satu hari ada yang pesan 6.000 porsi untuk sekali waktu makan. Jadi untuk tiga kali makan ya 18.000 porsi. Kadang kami udah nggak sanggup melayani yang lebih dari itu,” kata Risma.
Sebanyak 18.000 porsi sehari bukanlah jumlah yang sedikit. Karena itu, jangan heran jika sekarang ada yang menjuluki Risma sebagai miliarder asal Indonesia di tanah Arab. Menurut Risma, kuncinya adalah selalu mengedepankan pelayanan bagi pelanggannya. Jika ada komplain dari para jemaah terhadap makanan yang disajikan, segera ia mengganti dengan varian baru.
Menjadi sukses bukan berarti Risma lupa terhadap masa lalunya. Ia selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang sudah dilewati bersama karyawannya yang sekitar 80 orang, yang hampir semuanya orang Indonesia. Risma selalu memberi motivasi agar para karyawannya bisa sukses walaupun berada di negeri orang.
Kini Risma bisa menikmati hasil jerih payahnya yang dirintis sejak kecil. Risma juga sangat terkenal di Kota Makkah, Jeddah dan Madinah karena ia salah satu pengusaha katering. Beberapa jenis cemilan produk dari Risma juga sudah banyak menghiasi toko oleh-oleh di Mkkah dan Madinah.
“Saat ini sudah ada 33 jenis camilan yang kami pasarkan. Permintaan konsumen pun terus meningkat, sampai bagian produksi kewalahan. Camilan ini memang khas orang Indonesia, seperti keripik sayuran, kacang telur, hingga kue kuping gajah,” jelasnya.
Perjuangan tak kenal lelah di negeri orang, menghasilkan pendapatan yang tidak sedikit. Saat puncak haji misalnya, sekali kontrak pesanan bisa mencapai Rp3,7 miliar. Suatu nilai yang fantastis. Jika Allah sudah berkehendak, siapapun bisa diangkat derajatnya. (*)
