Bunuh Diri Mistik di Pantai Selatan Jawa

Bunuh Diri Mistik di Pantai Selatan Jawa
*) Oleh : Farid B Siswantoro
Ketua LHKP PWM DIY
www.majelistabligh.id -

Sepanjang jalur pantai selatan Jawa —dari Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, hingga ke Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Malang— fenomena bunuh diri dengan cara gantung diri terus berulang dalam pola yang mencemaskan. Hasil penelitian Komunitas nDalem Ontosenan Yogyakarta tentang hal itu, begitu mengagetkan: bunuh diri [khususnya secara gantung diri] itu bukan ‘milik’ Gunungkidul semata.

Alih-alih hanya membacanya sebagai data kematian atau kasus kepolisian, artikel ini mencoba memahaminya dari dalam: sebagai fenomena mistis dalam kultur Jawa, sekaligus sebagai bentuk protes diam dari mereka yang merasa tak punya lagi jalan keluar.

Kerangka Niels Mulder: Mistisisme sebagai Sistem Makna
Niels Mulder, peneliti Belanda yang menghabiskan waktu lama di Jawa, melihat mistisisme bukan sebagai hal luar biasa yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Baginya, mistisisme Jawa adalah cara orang memahami diri, masyarakat, dan kosmos secara utuh. Manusia Jawa adalah mikrokosmos yang mengandung percikan hakikat hidup yang sama dengan alam semesta—sehingga penyelarasan batin dengan rahasia hidup menjadi proyek eksistensial setiap individu.

Mulder membedakan mistisisme Jawa dalam tiga bentuk eksistensi: Eksistensi material: kepercayaan pada benda atau tempat keramat —pohon besar, makam, sendang. Di pantai selatan, pohon beringin atau asam jawa di tepi jalan sering menjadi lokasi gantung diri.

Eksistensi spiritual: pengalaman mistis seperti ragasukma (roh keluar dari raga) atau menerima wangsit (pesan gaib). Dalam kasus pulung gantung, anggapan adanya bola api atau cahaya yang turun dari langit adalah bentuk wangsit yang diyakini korban. Eksistensi moral: pertahanan tradisi dan etika terhadap leluhur.

Dari kerangka Mulder, pulung gantung di Gunungkidul —dan kemungkinan variannya di Wonogiri dan Pacitan— bukanlah sekadar “mitos aneh”. Ia adalah bagian dari eksistensi spiritual yang nyata bagi masyarakat pemiliknya. Seseorang yang mengalami tekanan luar biasa (sakit kronis, kemiskinan, utang, kehampaan hidup) tidak melihat pulung sebagai halusinasi, melainkan sebagai panggilan yang membebaskannya dari penderitaan. Dalam logika mistis Jawa, bunuh diri dengan gantung diri menjadi sebuah “laku” terakhir: tindakan yang secara batiniah diyakini sebagai jalan penyelarasan dengan takdir.

Dua Kelompok Rentan
Mulder juga membedakan motif di balik praktik mistis: motif positif (dilandasi tujuan baik) dan motif egoistis (dilandasi hasrat buruk). Dalam kasus bunuh diri di jalur selatan, kita menemukan apa yang bisa disebut sebagai motif positif yang terdistorsi.

Data dari Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan menunjukkan dua kelompok rentan yang konsisten. Pertama, lansia (50 tahun ke atas) dengan pemicu sakit menahun yang tak kunjung sembuh. Bunuh diri menjadi “obat” terakhir untuk mengakhiri penderitaan —sebuah bentuk “penyembuhan” yang tragis. Kedua, usia produktif (30–40 tahun) dengan pemicu tekanan ekonomi, utang, atau kegagalan usaha. Bunuh diri menjadi “pelunasan” utang secara metaforis: mengembalikan diri karena merasa tak lagi berharga.

Kapolres Wonogiri secara eksplisit menyatakan keprihatinan pada usia produktif. Ini berbeda dari Gunungkidul yang selama ini didominasi lansia. Bisa jadi ini indikasi bahwa tekanan ekonomi pasca-COVID mulai mencapai titik kritis. Dalam kerangka Mulder, yang terjadi adalah kegagalan sistem makna: ketika seseorang tidak lagi menemukan cara menyelaraskan diri dengan kosmos melalui jalan hidup, maka kematian menjadi satu-satunya “penyelarasan” yang tersisa.

Menyimpang dari Schimmel: Di Mana Cinta dan Fana’?
Jika kita sekarang meminjam kerangka Annemarie Schimmel —ahli mistik Islam yang mengagungkan cinta dan fana’ (peleburan diri dalam Tuhan)— kita melihat kontras yang tajam. Dalam sufisme sejati, seorang sufi mencapai fana’ dalam kehidupan: ia mati terhadap ego, tetapi tetap hidup sebagai makhluk yang dipenuhi cinta Ilahi. Tidak ada ruang untuk bunuh diri fisik.

Namun di sinilah letak perspektif kritis-keprihatinan. Meskipun secara kultural bunuh diri gantung diri mungkin “berterima” bagi pelakunya dalam kerangka Mulder, saya tetap melihat adanya sisi protes, ketidakrelaan, penolakan, atau ketidakikhlasan. Seorang lansia dengan sakit menahun yang gantung diri tidak sedang “ikhlas” menerima takdir. Ia justru menolak takdir berupa rasa sakit yang terus-menerus. Tindakannya adalah protes paling ekstrem: “Aku tidak rela hidup begini.”

Seorang usia produktif yang bunuh diri karena utang tidak sedang “pasrah”. Ia menolak menjadi budak utang. Ada amarah yang terpendam —terhadap sistem, terhadap keadaan, terhadap dirinya sendiri. Gantung diri adalah bentuk penolakan total: “Aku tidak rela diperlakukan seperti ini oleh dunia.”

Bahkan mitos pulung gantung yang sering dibaca seolah korban “kehilangan kesadaran” justru bisa dimaknai sebagai bentuk ketidakikhlasan yang paling halus. Korban tidak ingin dianggap bunuh diri secara sadar —ia ingin dianggap “dipanggil”. Di sini terjadi pelarian dari tanggung jawab eksistensial, bukan penerimaan sejati. Dalam perspektif Schimmel, seorang sufi sejati justru hadir secara penuh dalam setiap detik kehidupannya —bahkan dalam penderitaan.

Penutup: Antara Pemahaman dan Keprihatinan
Dengan kerangka Niels Mulder, kita memahami mengapa pulung gantung dan bunuh diri di jalur selatan Jawa bisa terjadi. Kita tidak menghakimi masyarakat yang mewarisi mitos ini sebagai “bodoh” atau “primitif”. Namun kita melihatnya sebagai sistem makna yang gagal menyediakan jalan keluar yang hidup.

Namun dengan kerangka Annemarie Schimmel, kita terpanggil untuk prihatin secara kritis. Kita melihat bahwa di balik pembenaran kultural, tetap ada jeritan protes, ketidakrelaan, dan ketidakikhlasan. Bunuh diri bukanlah fana’ —ia adalah fana’ yang palsu, yang berakhir dengan mayat tergantung di pohon, bukan dengan jiwa yang bersinar karena cinta.

Maka tugas kita bukanlah membenarkan atau menghakimi. Tugas kita adalah membuka telinga dan hati: Mendengar protes yang tak sempat diucapkan, melihat ketidakrelaan yang terbungkus mitos, dan kemudian —dengan rendah hati—menyediakan jalan lain. Jalan di mana penderitaan bisa diungkapkan tanpa harus mati. Jalan di mana cinta dan fana’ sejati bisa dicapai tanpa meninggalkan jasad tergantung di kota-kota tepi pantai selatan Jawa. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search