Pada milad ke-113 Muhammadiyah, kita berhenti sejenak di tepian waktu sebuah jeda penuh syukur, seperti cahaya subuh yang lembut. Di tengah situasi sosial umat yang kian kompleks, ketika sebagian kader terhanyut dalam kesibukan sosial, aktivisme, dan hiruk pikuk ranah publik hingga kadang lupa merawat kedalaman spiritual, momentum ini hadir sebagai panggilan untuk kembali menata langkah. Perjalanan lebih dari satu abad ini bukan sekadar deretan tahun, melainkan denyut panjang pengabdian yang ditempa zaman.
Sejak langkah pertama Kiai Ahmad Dahlan, Persyarikatan berdiri sebagai obor pembaruan: kecil di permulaan, tetapi cahayanya merambat luas, menyapa umat dengan ilmu, amal, dan kebermanfatan. Tujuan awal itu tumbuh dari spirit tajdid: memurnikan akidah, memberantas takhayul dan kejumudan, serta menghidupkan pendidikan dan pelayanan sosial sebagai jalan memuliakan manusia.
Inilah makna terdalam dari pesan Al-Qur’an, fastabiqul Khairat berlomba-lomba dalam kebaikan: bukan sekadar menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang paling sungguh-sungguh menebar manfaat, yang paling ikhlas melayani, dan yang paling jernih menghadirkan maslahat bagi sesama.
Dalam cahaya itulah kader Muhammadiyah ditempa. Mereka bukan hanya insan terpelajar, tetapi pribadi resilien: mampu berdiri tegak ketika angin perubahan bertiup kencang; adaptif menghadapi dunia yang berubah cepat; dan tetap terarah meski realitas sosial, politik, dan budaya sering menguji. Resiliensi itu lahir dari keseimbangan antara aktivisme sosial dan kedalaman ruhani—antara kerja publik yang melelahkan dan sujud malam yang menguatkan. Mereka bergerak dengan hati yang bersih, akal yang jernih, dan niat yang kokoh.
Kader Muhammadiyah juga memaknai intelektualitas bukan sebagai hiasan akademik, tetapi sebagai moral: menghadirkan ilmu yang jujur, argumen yang santun, dan gagasan yang menumbuhkan peradaban. Di tengah problem literasi bangsa yang masih rendah, mereka tidak berhenti membaca, meneliti, dan memperluas cakrawala. Sebab mereka sadar: literasi bukan hanya kemampuan memahami teks, tetapi kemampuan memahami zaman. Dari ruang kelas hingga ruang publik, dari kampus hingga pelosok desa, mereka menebar kesejukan, keteladanan, dan solusi nyata.
Dari pribadi-pribadi demikian lahir dampak sosial yang nyata: sekolah yang kembali hidup, masyarakat yang berdaya, lingkungan yang peduli, dan ruang publik yang lebih beradab. Mereka menebar manfaat seperti mata air tidak bising tetapi menghidupi, tidak menuntut tetapi memberi. Di balik langkah-langkah senyap itu, mereka membawa esensi tujuan awal Muhammadiyah: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam amal nyata demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Milad ke-113 ini bukan hanya momentum mengenang, tetapi juga mengafirmasi: bahwa masa depan Muhammadiyah berada di tangan kader-kader yang resilien, adaptif, cerdas secara moral, dan tajam secara intelektual; yang mencintai ilmu, memuliakan manusia, dan menjaga cahaya pembaruan agar tetap menyala di tengah kesibukan zaman. Dari merekalah cahaya Persyarikatan akan terus mengalir, menuntun umat bergerak dari gelap menuju terang.
