Cahaya Iman di Balik Sidratul Muntaha

Cahaya Iman di Balik Sidratul Muntaha
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”When the logic of the world reaches a dead end, faith lights the lantern to go beyond the horizon”
“(Ketika logika dunia menemui jalan buntu, iman menyalakan lentera untuk melampaui cakrawala)”

​Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha, melainkan manifestasi keagungan Allah bagi Baginda Nabi SAW. Di saat logika manusia terbentur, iman Abu Bakar membenarkannya tanpa ragu, hingga ia bergelar Ash-Shiddiq. Peristiwa ini mengajarkan bahwa jarak antara hamba dan Sang Pencipta hanyalah seutas doa dan keteguhan hati.​Sebagaimana firman Allah SWT,
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا …..
Artinya:
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha...” (Qs. Al-Isra’: 1)

Menurut Ibnu Katsir, perjalanan ini bertujuan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah. Meski kaum Quraisy ingkar dan sebagian murtad, peristiwa ini menjadi ujian kejernihan iman untuk membedakan antara pengikut sejati dan mereka yang ragu.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda mengenai respons Abu Bakar
لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ
Artinya:
Jika orang itu (Muhammad) yang mengatakannya, maka sungguh ia benar.”(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3:65)

Oleh karena itu, ​Isra’ Mi’raj adalah potret kemuliaan ibadah salat dan pembuktian bahwa kebenaran wahyu melampaui batas rasio manusia. Ketaatan mutlak adalah kunci menuju kedekatan dengan Ilahi.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search