Di tengah hiruk-pikuk zaman, guru sering kali menjadi sasaran kemarahan publik. Fenomena “guru dihantam” bukan hanya peristiwa fisik atau verbal, tapi simbol krisis relasi antara pendidik, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.
Guru mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendampingi siswa, tapi cinta pedagogis itu sering kali tidak dipahami. Masyarakat lebih mudah menghakimi daripada memahami kompleksitas pendidikan. Ketika guru menegur siswa, sebagian orang tua melihatnya sebagai kekerasan. Ketika guru mendisiplinkan, ia dituduh otoriter.
Fenomena ini lahir dari perubahan pola relasi sosial yang individualistis dan transaksional. Pendidikan dipandang sebagai layanan jasa, guru sebagai pelayan, siswa sebagai konsumen, dan orang tua sebagai pelanggan. Otoritas moral guru terkikis, dan guru tidak lagi dipandang sebagai figur telaman.
Media sosial memperparah situasi ini. Satu potongan video atau narasi sepihak dapat menggiring opini publik untuk menghakimi guru tanpa klarifikasi. Guru tetap memikul beban moral yang berat, tapi cinta guru kepada siswa sering kali berubah menjadi kelelahan emosional.
Fenomena “guru dihantam” mencerminkan krisis otoritas dalam masyarakat modern. Otoritas tidak lagi dibangun atas dasar ilmu dan moral, tapi popularitas dan kekuatan opini publik. Guru yang tidak memiliki panggung media sosial menjadi figur yang kalah suara.
Cinta guru kepada siswa adalah cinta yang tidak selalu manis. Ia hadir dalam bentuk teguran, larangan, dan disiplin. Jika cinta hanya diukur dari kelembutan, pendidikan kehilangan daya transformasinya. Guru harus dipandang kembali sebagai mitra strategis dalam membangun peradaban.
Orang tua perlu menyadari bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga keluarga dan lingkungan. Negara harus melindungi martabat profesi guru dengan regulasi yang jelas, perlindungan hukum, dan kebijakan yang berpihak pada guru.
“Cinta terbuang, guru dihantam” adalah metafora dari krisis kemanusiaan dalam pendidikan. Ketika cinta tidak lagi dipahami sebagai tanggung jawab moral, dan guru tidak lagi dihargai, pendidikan kehilangan maknanya. Membela guru bukan sekadar membela profesi, melainkan membela masa depan peradaban itu sendiri. (*)
