Duhai dua insan yang duduk beriring di tengah hiruk-pikuk perjalanan, ketahuilah…bahwa tiap langkah kalian hari ini telah ditulis halus dalam kitab takdir sejak ruh pertama kali mengenal cahaya.
Cinta bukan gema dari kata-kata manis, melainkan diam yang teduh yang membuat hati terasa pulang. Ia bukan bayang-bayang kemarin, tetapi harapan esok yang kalian jaga bersama dalam sabar dan doa.
Engkau yang lelaki, jadilah naungan yang tidak mengikat, melainkan memeluk. Jadilah pemimpin yang tidak meninggi, tetapi meninggikan. Sebab perempuan yang duduk di sisimu itu adalah amanah Allah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Dan engkau yang perempuan, jadilah lembut yang menguatkan, bukan karena engkau lemah, tetapi karena kelembutanmu adalah kekuatan yang tak dimiliki langit dan bumi kecuali oleh hati yang terjaga.
Perjalanan kalian hari ini bukan sekedar menuju rumah, melainkan menuju kehidupan baru yang penuh rahmat. Jika kelak badai datang, ingatlah…bahwa bahtera yang berangkat dengan nama Allah tidak akan tenggelam, kecuali jika kalian sendiri melepaskan dayungnya.
Semoga Allah menautkan hati kalian dengan kasih yang tumbuh dalam taat, dengan rindu yang tidak melalaikan, dan dengan cinta yang tetap hidup meski usia memudar dan dunia meredup.
Pulanglah, duhai dua jiwa, sebab rumah sejati bukan alamat di bumi, melainkan dada tempat kalian saling menemukan ketenangan.
Barakallahu fiikum.
