Suasana Ahad (26/10/2025) pagi di Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, terasa istimewa. Ratusan jemaah mengikuti Pengajian Safari Ahad Subuh (SAS) yang digelar Badan Koordinasi Masjid Muhammadiyah (BKMM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo. Kegiatan rutin bulanan yang berpindah dari satu cabang ke cabang lainnya ini kali ini menghadirkan dai muda asal Mojokerto, M. Iqbal Rahman, sebagai penceramah.
Dalam tausiyahnya, Iqbal mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga aktif melanjutkan perjuangan dan amal kebaikan yang telah dikembangkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah selama ratusan tahun.
“Kita mengakui semangat para ayahanda aktif di persyarikatan, aktif di pengajian, aktif membesarkan amal usaha, tapi ada satu yang dilupakan yakni mengajak anak-anaknya aktif di persyarikatan,” ujarnya penuh semangat.

Meski demikian, Iqbal mengapresiasi kondisi di Masjid Ar Royyan Buduran yang dinilainya berbeda dari kebanyakan tempat. Menurutnya, keterlibatan generasi muda Muhammadiyah di masjid ini patut diacungi jempol.
“Angkatan muda Muhammadiyah di masjid ini sadar betul posisinya, bahwa mimbar mereka bukan di belakang meja tapi ada di handphone,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menambahkan, dakwah digital yang dilakukan para remaja masjid Ar Royyan bahkan berhasil menarik perhatian publik.
“Dakwah anak muda Ar Royyan beberapa kali FYP (for you page, tanda viralnya suatu konten) di TikTok,” ungkap dai muda bersertifikasi Kementerian Agama (Kemenag) tersebut.

Empat Hal Penting Ikhtiar Orang Tua
Dalam materi bertema “Peran Orang Tua dalam Meneguhkan Akhlak Generasi Muda”, Iqbal menyampaikan empat hal penting yang perlu diikhtiarkan para orang tua untuk menjaga akhlak anak-anak mereka. Ia mengaitkan pesan ini dengan firman Allah SWT dalam QS At-Tahrim ayat 6, yang memerintahkan setiap mukmin untuk menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka.
Pertama, mengajarkan salat sejak dini. “Saking pentingnya perintah ini, Nabi Muhammad Saw pun menganjurkan untuk memukul anak yang sudah baligh namun tidak mau salat,” tutur Iqbal.
Ia menegaskan, pukulan yang dimaksud bukanlah bentuk kekerasan, melainkan pukulan kasih sayang yang mengantarkan anak-anak menuju jalan ketaatan.
“Tentunya bukan pukulan menyakitkan, tapi pukulan kasih sayang untuk mengantarkan anak-anak kita meraih surga,” tambahnya.
Kedua, orang tua harus mengajarkan ilmu agama sejak dini. Menurut Iqbal, di era penuh godaan dan hiburan digital ini, fondasi agama menjadi benteng utama moral anak-anak. Ia menuturkan keprihatinannya terhadap perilaku sebagian remaja masa kini.
“Saya prihatin melihat anak-anak usia SMP, namun masih pipis di sembarang tempat. Itu menandakan karena kebiasaan sejak kecil,” katanya.
“Ada juga saya melihat anak-anak SMP yang wudlu-nya masih berantakan. Bagaimana salatnya sah, kalau wudlunya masih gak karu-karuan,” jelasnya.
Ketiga, orang tua perlu membiasakan anak-anak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Iqbal menekankan pentingnya menumbuhkan kecintaan kepada kitab suci sejak kecil.
“Kalau orang tua sendiri tidak sempat, kini hampir setiap mushola di kampung atau perumahan sudah ada TPQ yang siap mengajari anak-anak berinteraksi dengan Al-Qur’an,” terangnya.
Keempat, memilih lingkungan menuntut ilmu yang baik. Baik sekolah maupun pergaulan sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan akhlak anak.
Iqbal menutup bagian ini dengan menyitir nasihat Imam Syafi’i: “Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya menuntut ilmu, bersiap-siaplah akan merasakan hinanya kebodohan.”
Pengajian SAS di Masjid Ar Royyan Buduran kali ini juga berbarengan dengan pelaksanaan Café Kemadjoean, program rutin masjid yang berlokasi di Jalan Timur Siwalan Panji tersebut. Seusai kajian, jemaah menikmati aneka menu sarapan khas Nusantara, seperti soto, rawon, dan bakso.
Selain itu, takmir masjid juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis serta penjualan busana muslim seperti baju koko, sebagai salah satu upaya menambah pemasukan untuk operasional masjid. Kegiatan ini sebagai wujud dakwah tidak hanya lewat ceramah, tetapi juga melalui penguatan ekonomi dan pelayanan sosial.
Ketua Takmir Masjid Ar Royyan Ridwan Manan, SAg, M Pd dalam kesempatan tersebut melaporkan progres pembangunan masjid di lantai 2 yang hampir mencapai 33 persen. Pembangunan ditargetkan selesai akhir Tahun 2025 ini. Ia bersyukur meski tergolong masjid baru, namun operasional masjid relatif padat kegiatan.
“Ini tak lepas dari keterlibatan semua pihak, terutama didukung kader kader muda sehingga kajian, amal kegiatan lain berjalan cukup padat,” ujar Kepsek SMA Ponpes Al Fattah Sidoarjo itu. (*)
