Suasana di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Porong siang itu terasa berbeda. Bukan karena cuaca, melainkan karena hadirnya tamu istimewa dari Thailand Selatan, Ustaz Ridwan Chesae, Sabtu (24/5/2025). Usai mendarat di Bandara Juanda sekitar pukul 11.00 WIB, seorang pembina pesantren dan dai dari kota Narathiwat itu langsung bertolak ke Porong, menandai awal kunjungan penuh makna.
Ustadz Ridwan dikenal sebagai tokoh penting di dua lembaga Islam di Thailand: Ma’had Tahfidz Imam Al-Ghazali dan Mu’assasah Ad-Dakwah wat Tarbiyah Al-Islamiyyah. Di sana, ia membina para pemuda Muslim menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus pendakwah yang berjuang di tengah komunitas Muslim minoritas.
Setelah melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, Ustaz Ridwan memberikan nasihat kepada para santri. Dengan gaya tutur yang tenang namun menginspirasi, ia menyampaikan bahwa menuntut ilmu agama adalah jalan menuju kehidupan yang bercahaya.
“Jangan tertipu oleh gemerlap dunia. Bangunlah cita-cita untuk menjadi generasi yang menunjukkan jalan menuju surga,” pesannya tegas.
Dalam sesi tersebut, ia juga berbagi pengalaman bahwa di Thailand, para santri tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mempelajari karya-karya ulama dari Nusantara. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh keilmuan ulama Indonesia di dunia Islam internasional.
“Kami mempelajari banyak kitab ulama asal Indonesia. Maka bersyukurlah kalian yang hidup di negeri para ulama dan pewarisnya,” ungkapnya, memotivasi para santri agar lebih mencintai tradisi keilmuan Islam di tanah air.
Ustaz Ridwan juga menggambarkan tantangan berdakwah di Thailand, di mana umat Islam menjadi kelompok minoritas. Namun, tantangan itulah yang membuka banyak peluang untuk menyalakan cahaya dakwah.
“Di negeri kami, setiap langkah dakwah adalah lentera. Sedangkan di Indonesia, peluang itu terbuka lebar. Maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya,” tuturnya menggetarkan hati.
Kehadirannya di MBS Porong, meski hanya 3 hari di Indonesia, karena ia akan melanjutkan perjalanan ke Kediri dan Ponorogo, lalu kembali ke Thailand—menjadi momentum berharga. Para santri menyaksikan langsung bahwa Islam tidak mengenal batas negara, dan mereka adalah bagian dari gerakan dakwah global.
Kunjungan ini bukan sekadar temu tokoh, tapi menjadi pengingat penting: bahwa menjadi santri berarti memikul amanah untuk menerangi dunia dengan ilmu dan akhlak.
Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar turut menyampaikan bahwa silaturahmi semacam ini merupakan bagian dari pendidikan karakter santri. Melalui perjumpaan dengan tokoh-tokoh luar negeri, wawasan mereka diperluas, dan kesadaran untuk menjadi pelajar Muslim berdaya saing global ditumbuhkan.
“Menjadi pelajar bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga memiliki cakrawala luas dan pijakan nilai Islam yang kuat,” ujarnya.
Melalui program Guest Teacher, MBS Porong terus menghadirkan tokoh inspiratif—tak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari mancanegara. Ustadz Ridwan Chesae menjadi salah satu di antaranya, yang dengan keteladanan dan kisah perjuangannya, telah menyalakan semangat baru bagi santri MBS Porong.
Muhammadiyah Boarding School Porong menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan dakwah kader muda dan membuka ruang interaksi lintas budaya Islam yang mempererat ukhuwah Islamiyah. Sebab sejatinya, Islam adalah agama yang membentang luas, penuh kasih, dan mendorong kerja sama global dalam menebar cahaya kebenaran. (*/tim)
