”Don’t let us be so busy polishing the stage to make it attractive to look at, that we forget that preaching is about fixing our hearts so that we are worthy before God”
“(Jangan sampai kita lebih sibuk memoles panggung agar menarik dipandang, hingga lupa bahwa dakwah adalah tentang membenahi hati agar layak di hadapan Tuhan)”
Saat ini, panggung dakwah sering kali bias antara tuntunan dan tontonan. Dominasi lelucon demi mengejar respons khalayak berisiko terjebak dalam ghibah dan fitnah.
Padahal, meski Islam memperbolehkan humor sebagai “pemanis lidah”, esensi dakwah adalah transformasi batin, bukan sekadar gelak tawa. Jangan sampai mimbar suci berubah menjadi panggung komedi yang melalaikan hati dari mengingat Allah. Mari kembalikan marwah dakwah pada jalur ilmu yang murni. Allah SWT berfirman,
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ……
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik...”(Qs. An-Nahl: 125).
Menurut Tafsir Al-Wajiz (karya Syekh Wahbah Az-zuhaili) menegaskan, dakwah harus disampaikan dengan kata-kata yang tegas namun bijaksana, bukan dengan gurauan berlebih yang mengaburkan kebenaran.
Dalam hadis, Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Artinya:
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud No. 4990 dan Tirmidzi No. 3315)
Jadi, tertawa secukupnya adalah manusiawi, namun menjadikan agama sebagai bahan olokan adalah kerugian. Semoga kita lebih selektif dalam memilih majelis ilmu yang mendekatkan diri pada-Nya.
Semoga bermanfaat.
