Dakwah Nabi dan Kepemimpinan Umat: Telaah QS. Yūsuf:108

Dakwah Nabi dan Kepemimpinan Umat: Telaah QS. Yūsuf:108
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fatah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Dakwah adalah inti dari misi kenabian. Ia bukan sekadar seruan moral, tetapi gerakan kepemimpinan umat yang berorientasi pada Allah . Hal ini ditegaskan dalam QS. Yūsuf [12]:108:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah adalah jalan hidup Nabi bersama pengikutnya, dengan fondasi ilmu, kepemimpinan yang jelas, dan orientasi tauhid.

Dakwah Nabi: Selalu Mengajar Tanpa Berhenti

Menurut Ibn Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah berdakwah mengajak kepada tauhid dengan penuh بصيرة (ilmu yang jelas dan hujjah yang kuat).⁴ Dakwah beliau bukan spekulasi, melainkan wahyu yang diyakini kebenarannya.

Al-Qurṭubī menafsirkan kata بصيرة sebagai dakwah yang berdasarkan hujjah, pengetahuan, dan keyakinan mendalam, sehingga tidak ada ruang bagi kebodohan.⁵ Dengan kata lain, Nabi mengajarkan bahwa dakwah harus terus-menerus, terarah, dan berlandaskan ilmu.

Tafsir kontemporer seperti Al-Mukhtashar fi at-Tafsir menegaskan bahwa dakwah Nabi dan pengikutnya selalu berada di atas kebenaran yang jelas, bukan pada keraguan atau hawa nafsu. Inilah sebabnya dakwah Nabi tidak pernah berhenti: setiap momen hidupnya menjadi pendidikan.

Struktur Dakwah: Pemimpin dan Pengikut

Frasa “أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِيmengandung makna kolektivitas dalam dakwah. Nabi bukan hanya berdiri sendiri, melainkan bersama para sahabat dan pengikut yang setia. Menurut al-Rāzī, ayat ini menekankan pentingnya struktur dalam dakwah: ada pemimpin (imam) yang memberi arah, dan ada pengikut (jamaah) yang melanjutkan.

Model ini sesuai dengan teori sosial modern bahwa setiap gerakan perubahan membutuhkan kepemimpinan yang jelas sekaligus barisan yang kuat. Dakwah tanpa kepemimpinan akan tercerai-berai; pemimpin tanpa pengikut tidak akan mampu menggerakkan perubahan.

Fiqh Dakwah Mohammad Natsir dan Isa Anshori

Keteladanan dakwah Nabi mendapat penegasan dari tokoh Islam Indonesia modern.

Mohammad Natsir dalam Fiqhud Da‘wah menulis:

“Dakwah adalah usaha memimpin manusia, dengan penuh hikmah, menuju kehidupan yang diridai Allah, dengan menjadikan seluruh aspek hidup tunduk kepada-Nya.”¹

Bagi Natsir, dakwah bukan sekadar seruan akhlak, melainkan kepemimpinan yang membawa umat kepada visi Islam yang utuh, termasuk dalam bidang sosial, budaya, dan politik. Ia menegaskan pentingnya dakwah yang terorganisir dan kolektif:

“Dakwah bukan pekerjaan sambilan, bukan usaha insidental, melainkan tugas hidup yang harus ditunaikan dengan teratur, terus-menerus, dan penuh kesungguhan.”²

Sedangkan Isa Anshori, dalam Dakwah dan Perjuangan Islam, menekankan aspek militansi:

“Dakwah adalah panggilan hidup seorang Muslim; ia menuntut pengorbanan, keteguhan, serta kepemimpinan yang mampu menghimpun jamaah untuk bergerak di jalan Allah.”³

Bagi Isa Anshori, dakwah adalah perjuangan kolektif. Tanpa imam yang memimpin dan jamaah yang mengikuti, dakwah akan kehilangan arah.

Konteks Historis Pemikiran Dakwah

Pemikiran dakwah Natsir dan Isa Anshori lahir di tengah pergolakan Indonesia abad ke-20:

Mohammad Natsir (1908–1993) berjuang di arena politik, pendidikan, dan dakwah. Sebagai tokoh Masyumi dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, ia menekankan bahwa dakwah adalah usaha membangun masyarakat Islam yang modern, berilmu, dan terorganisir.

Isa Anshori (1905–1969), tokoh Persatuan Islam (Persis), lebih menekankan aspek keteguhan dan militansi menghadapi kristenisasi, sekularisasi, dan arus modernisasi yang merusak moral umat.

Meskipun corak keduanya berbeda, mereka sama-sama menekankan pentingnya kepemimpinan dan kolektivitas dalam dakwah, sebagaimana teladan Nabi dalam QS. Yūsuf:108.

Implikasi Kekinian

Telaah QS. Yūsuf:108, pandangan mufassir, dan pemikiran tokoh dakwah Indonesia memberi arah bagi dakwah modern:

1. Dakwah Ilmiah (بصيرة): Dakwah harus berbasis ilmu, riset, dan hujjah.

2. Dakwah Kolektif: Dakwah dilakukan oleh jamaah dan organisasi yang saling bersinergi.

3. Dakwah Terpimpin: Dibutuhkan pemimpin dakwah yang amanah, visioner, dan berwibawa.

4. Dakwah Integral: Dakwah harus menyentuh seluruh aspek kehidupan: pendidikan, sosial, politik, dan budaya.

5. Dakwah Militan: Dakwah harus dijalankan dengan keteguhan, semangat, dan pengorbanan.

QS. Yūsuf:108 adalah fondasi dakwah Islam: jalan Nabi bersama pengikutnya menuju Allah dengan ilmu, kepemimpinan, dan barisan yang teratur. Pandangan mufassir klasik (Ibn Katsir, al-Qurṭubī, al-Rāzī) menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan ilmu dan hujjah yang kuat.

Sementara pemikiran Mohammad Natsir dan Isa Anshori memperkuat pesan bahwa dakwah mesti menjadi gerakan kepemimpinan umat yang kolektif, militan, dan berkesinambungan.

Dengan meneladani pola dakwah Nabi serta warisan mufassir dan pemikir modern, umat Islam masa kini dituntut membangun dakwah yang berilmu, terarah, dan terorganisir — menghidupkan kembali spirit kepemimpinan Nabi dalam membimbing manusia menuju Allah.

Catatan Kaki

1. Mohammad Natsir, Fiqhud Da‘wah, (Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 1977), hlm. 15.

2. Ibid., hlm. 27.

3. Isa Anshori, Dakwah dan Perjuangan Islam, (Bandung: Penerbit Al-Ma’arif, 1969), hlm. 42.

4. Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aīm, Juz 4, Tafsir QS. Yusuf:108.

5. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Yusuf:108.

6. Fakhruddin al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, Tafsir QS. Yusuf:108.

Tinggalkan Balasan

Search