Orang, boleh jadi nafsunya lebih kuat daripada akal dan hatinya, sehingga rasionalitasnya tidak jalan. Lazimnya, semua kebaikan dan kebenaran, harus diterima dan dipercaya oleh akal sehat dan hati yang sehat, namun nyatanya ditolak dan tidak dipercaya. Inilah makna bahwa “hati nurani” memainkan peran penting dalam menerima kebaikan dan kebaikan secara jujur, bahwa hanya hati yang disinari cahaya Tuhan lah yang mampu menerima kebenaran apa adanya. Inilah makna bahwa “kebenaran mutlak” tidak tergantung waktu dan tempat, karena orang yang jujur pasti menerima kebenaran mutlak tersebut apa adanya, tidak tergantung profesi, jabatan, posisi, atau lainnya, sehingga pendosa pun dapat menerima kebenaran mutlak tersebut jika saat jujur.
Angka “1” (satu), orang yang alim, jahil, presiden, sinden, mu’min, kafir, pezina, koruptor, hakim, polisi, dst., pasti akan menyebutnya “satu”. Jika angka 1 (satu) dikatakan 2 (dua), maka sudah tidak sehat, tidak waras. Inilah makna firman Allah:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
(Sungguh benar, Kami telah menciptakan jin dan manusia, namun banyak dari mereka masuk neraka Jahanam. Mereka memiliki hati, namun tidak dipergunakan untuk memahami; dan memiliki mata, namun tidak mereka pergunakan untuk melihat; serta memiliki telinga, namun tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan.
Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang pelupa).
(QS. Al-A’raf/7: 179)
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
(Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sungguh bukan matanya yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang berada dalam dada).
(QS. Al-Hajj/22: 46)
Yang dapat dinalar secara rasional, tidak musti membuat akal sadar; boleh jadi dicarikan argumentasi untuk menghela diri. Kesadaran dapat wujud hanya yang keluar dari jiwa yang bersih dan suci, bukan dari jiwa yang kotor dan penuh najis. Inilah menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah makna dari fiman Allah, “La yamassuhu illa al-muthahharun” (al-Qur’an tidak dapat disentuh [maknanya] kecuali oleh orang-orang yang bersih).
Karena itu, tidak setiap yang kita tunjukkan akan dilihat dan diperhatikan orang. Tidak setiap yang diperdengarkan akan disimak orang. Tidak setiap “kebaikan” yang dikerjakan, akan diterima baik-baik oleh orang. Inilah pentingnya konsep ikhtiar, tawakkal, dan ikhlas, karena semua itu akhirnya dipasrahkan kepada Allah. Tidak ada nabi dan rasul yang tidak ada musuhnya. Nabi Nuh bahkan anaknya sendiri inkar; nabi Luth istrinya sendiri inkar; nabi Ibrahim ditentang bapaknya dan dibakar oleh rajanya; nabi Musa mau dibunuh Fir’aun; nabi Isa berhadapan dengan penguasa Romawi; nabi Muhammad berhadapan dengan kafir Quraisy, Yahudi, dan Nashrani. Bahkan dari kalangan sukunya sendiri ada yang memusuhi.
Contoh bahwa tidak semua orang menerima ajakan seseorang meskipun benar namun caranya kurang baik adalah seorang “alim” yang mau menasehati Khalifah Harun Ar-Rasyid. Sang alim, karena sikap kerasnya, dibodoh-bodohin Khalifah Harun. Tokoh tersebut terlalu “pede” (percaya diri) kepada pengetahuannya yang selalu dianggap benar. Sehingga disampaikan apa yang ada dengan lantang, keras, namun tidak memperhatikan sikon. Alkisah ini diceritakan kembali oleh Gus Baha’ sebagai berikut:
إني ناصح لك فمشدد عليك
ولا تجدن علي شيئا في نفسك شيئا
قال هارون الرشيد:
“أسكت لا استاذ
أسكت يا جاهل, انت جاهل!”
إن الله قد ارسل من خير منك
الى من هوشر مني
فإن الله قال:
… فقولا له قولا لينا
([Khalifah Harun!], “Aku akan menasehatimu dengan keras, karena aku tidak menemukan sesuatu pun di dalam dirimu. Harun menyahut, “Diam, kamu bukan guru, Diam, bodoh! Kamu bodoh,
Sungguh Allah mengutus orang yang lebih baik daripada kamu, kepada orang yang lebih buruk dibandingkan aku. Namu Allah menyuruhnya, “… bertuturlah kamu berdua dengan ucapan lemah lembut!
Fir’aun saja, sang penjagal nyawa, Allah menyuruh Musa dan Harun saat mengajak untuk berbuat baik dan menyembah Allah SwT, disuruh ngomong yang baik dan menjaga tatakerama. Kata Khalifah Harun, “Kepada Fir’aun yang jahat saja disuruh berkata santun, apalagi kepada saya. Saya tak sejahat Fir’aun, tentu harus lebih sopan. Bagaiman kamu mau ngomong kasar kepadaku? Berarti kamu bukan kyai, tapi orang bodoh. Kau diam! Kau bodoh! Kamu bukan guru.
Mengapa Musa disuruh Allah untuk berkata layyinan kepada Fir’aun? Dakwah bukan untuk saat sekarang saja, ke depan, ada harapan generasi berikutnya mau mendengarkan, menerima, bahkan mengamalkan. Nyatanya ke masa berikutnya ada dari kalangan Fir’aun yang menerima ajaran tauhid, monoteisme.
