Dakwah, Pahit di Depan, Manis di Belakang

www.majelistabligh.id -

Dai itu, keras dikritik, lemah-lembut dikritik; ketinggian dikritik; terlalu mudah dikritik; sedang-sedang ya dikritik; apa saja dikritik. Ngajak ngaji siang, kok gak malam. Malam kok gak siang. Kalau siang, katanya, “Wayahe nyambut gawe”. Malam wayahe wong turu. Minggu wayahe liburan. Jum’at durung libur. Semua serba DISALAHKAN.

Mengutip Tuan Guru Bakri, “Kalau ada niat, ada seribu cara untuk menghadiri; kalau tidak ada niat, ada seribu cara untuk menghindari.” Artinya, kalau hati tidak berkehendak, yang manis pun dirasa pahit, yang baik pun kelihatan buruk, yang cantik nampak tak elok rupa, apalagi yang buruk dan jelek.

Kurang alim apa Ustadz Adi Hidayat, masih ada yang men-tahdzir, ada yang melarang untuk mengikuti kajiaanya. Kurang alim apa Ustadz Abdul Shamad, di kalangan internal nahdliyin sendiri ada yang menolak dan mendiskreditkan karena simpati kepada Islam politik.

Dai, JANGAN sampai kayak cerita “Keledai, Ayah, dan Anak”.  Keledai dituntun oleh ayah dan anak, namun tidak dinaiki. Bertemu orang di jalan, lalu ditanya, “Ngapain punya Keledai tidak dinaiki? Untuk apa punya keledai.” Setelah itu keledai dinaiki ayah dan anak. Di tengah jalan bertemu dengan seseorang, “Ngapain keledai yang kecil itu dinaiki 2 orang? Kok bodoh sekali.”

Akhirnya salah satu dari ayah dan anak turun. Anaknya ada yang di atas keledai, sedang bapaknya ada di bawah, menuntun keledai. Bertemulah seseorang di perjalanan, “Tidak sopan sekali, anak naik Keledai, sedang ayahnya menuntun.” ayah dan anak bingung. Akhirnya ayahnya yang naik keledai. Perjalanan dilanjutkan, di tengah jalan bertemu seseorang, “Ayah macam apa ini, ayahnya naik Keledai, anaknya menuntun di bawah. Orang tua tak punya otak.” Turunlah ayahnya dari Keledai. Akhirnya ayah dan anak kebingungan.

Dai bisa diombang-ambingkan keadaan bila tidak punya pendirian, mudah digoyang angin, atau bahkan masuk angin. Apalagi kebanyakan makan, seperti cerita pasukan yang kebanyakan minum “Air Ujian”.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

(Maka, ketika Thalut keluar membawa bala tentaranya, dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk golongan-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk golongan-ku, kecuali menciduk satu cidukan dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan beretemu Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.

(QS. Al-Baqarah/2: 249).

Orang, tokoh, kyai, ulama, aktivis, cendekiawan, kalau sudah mau “makan”, bahkan “kebanyakan makan”, suara kritisnya hilang, telinganya gak peka, matanya buram, mulutnya bisa, otaknya tumpul, fikirannya gak tajam lagi, konsepnya amburadul, tidak konsisten, dan lainya.

Keberaniannya hilang menjadi penakut dan dihinggapi rasa was-was. Kekayaan, kesenangan, jabatan, itu memabukkan, bisa merubah orang yang sadar fikirannya jadi linglung, kesadarannya hilang, yang pintar jadi dungu, yang dungu tambah bego, dan seterusnya. Yang memabukkan bukan hanya sabu, wine, oplosan, dsb.

Yang membuat “sakau” (dari kata Arab “sakara”: tidak sadar, mabuk, jadi: sakau); namun sogokan, gratifikasi, rasywah, korupsi, dan sejenisnya, bisa membuat orang sakau, lupa diri, dan melanggar aturan. Jadi benarlah ayat di atas, jika seseorang banyak “minum”, maka akan kehilangan “kekuatan”-nya, jadi lemah dan lunglai.

Para nabi dan rasul, ajakannya bukan pamrih untuk mencari materi, jabatan, dan kesenangan, serta kehormatan, namun hanya mencari “pahala”dari Allah. Salah satunya adalah ayat berikut:

وَيٰقَوْمِ لَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًاۗ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ بِطَارِدِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ

اِنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَلٰكِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُوْنَ

(Wahai kaumku, aku tidak meminta kepadamu harta (sedikit pun sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya (di akhirat), tetapi aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh.

(QS. Hud/11:29)

Nabi Ulul Azmi, termasuk nabi Nuh, satu di antara contoh betapa beratnya berdakwah. Riwayat menyebutkan, selama berdakwah kurang-lebih 800 tahun, hanya memperoleh 80 pengikut. Artinya, setiap seratus tahun, hanya dapat mengimankan 10 orang, berarti 1 tahun, 1 orang. Begitu berat ujian para nabi dan rasul. Padahal seperti dakwahnya nabi Nuh, menggunakan berbagai cara, waktu, dan model pendekatan. Berikut firman Allah:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًاۙ ثُمَّ اِنِّيْٓ اَعْلَنْتُ لَهُمْ وَاَسْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَارًاۙ

Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mengajak kaumku siang dan malam, tetapi seruanku tidak menambah (iman) mereka, melainkan mereka (makin) lari (dari kebenaran).

Sesungguhnya setiap kali aku mengajak mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinga dan menutupkan baju (ke wajah) mereka. Mereka pun tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.

Kemudian, sesungguhnya aku mengajak mereka dengan cara terang-terangan. Dakwah ini dilakukan setelah dakwah dengan cara diam-diam tidak berhasil.

Lalu, aku menyeru mereka secara terbuka dan diam-diam. Setelah gagalnya dakwah secara diam-diam dan dakwah secara terang-terangan, Nabi Nuh a.s. melakukan keduanya sekaligus.

 (QS. Nuh/:5-9).

Nabi Nuh, menurut kalangan ulama’ sebagai Rasul pertama, ada kaum, ada ajarannya. Dakwahnya siang-malam, jihar-israr, alaniah-sirr, namun kaumnya malah menutup wajah dan membuntu telinga mereka. Mereka tidak bertambah kecuali makin kufur.

Nabi Muhammad, dakwahnya juga memakai cara sirr, jahr, lemah lembut, juga keras, bahkan perang, tergantung situasi dan kondisi. Antara lain yang sering kita kutip:

قل الحق و لو كان مرا

(Nyatakan kebenaran itu, meski pahit)

اي الجهاد افضل؟ قول الحق عند سلطان جائر

(Jihad apakah yang paling afdlal? Mengatakan yang benar di hadapan penguasa zhalim)

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-ahl/16: 125)

 

Tinggalkan Balasan

Search