Dakwah, Pahit di Depan, Manis di Belakang

www.majelistabligh.id -

Kata Gus Baha’, Khashm (berdebat secara keras) tentang Tuhan dibolehkan, hukumnya mubah (QS. Al-Hajj/22: 19), tujuannya untuk mencari dan membutikan kebenaran. Sehingga dialog antar agama, dialog antar ummat beragama, secara teologis diperbolehkan dan absah. Di dalam al-Qur’an banyak contoh dialog, debat, munaqasyah, tentang suatu perkara. Di antaranya ayat berikut:

۞ هٰذَانِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ ۚ

(Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar. Mereka bertengkar tentang Tuhan mereka. Bagi orang-orang yang kufur dibuatkan pakaian dari api neraka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih).

(QS. Al-Hajj/22: 19)

Bahwa berdakwah, di dalamnya adalah mengajar, Gus Baha’ ngomong, “Orang alim mikir tenanan, ben muride pinter-pinter. Orang alim kangelan nemu coro ben muride cepet faham, sebalike, murid yo kangelan ben cepet faham.” Jadi, guru, mencari jalan biar orang lain cepat faham, tapi angel. Sebaliknya, murid juga angel untuk cepat faham. Karena itu Gus Baha’ ngomong, ngaji yo ngaji ae, ngaji berdasarkan ilmu, ojok ngaji kerono nafsu, ben oleh kebenaran. Kata beliau:

Dadi, ngaji iku berdasarkan ilmu, ora berdasar nafsu. Nek berdasarkan nafsu, gak onok benere. Seng bener seng podo karo karepe, kabeh salah nek gak podo karo karepe. Wong ngono iku, jangankan kyai, guru, wong bojone dewe ae disalahno, nek gak cocok karo karepe, kabeh salah. Dadi seng bener opo sesng sesuai karo kekarepane. Nek dunyo diatur koyok ngene rusak. Nek gak cocok karo nafsune, gak bener. Mangkane, ngaji gudu berdasarkan ilmu, ora nafsu.”

 من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له طريقاً إلى الجنة

 Menurut Gus Baha’, yang disebut “yaltamisu ilman” adalah orang alim. Karena orang alimlah yang setiap detiknya selalu “mencari ilmu”. Jadi, manakala manusia mau dimudahkan jalannya masuk surga harus menjadi pencari ilmu (alim). Orang awam yang minim ilmunya, tidak masuk kelompok ini, karena biasanya mereka “ikutan” saja apa yang disampaikan ulma’ mereka, tidak “yaltamisu ilman”.

Pahit di Depan, Manis di Belakang

Sekarang, boleh jadi ditolak yang lain, dihina, dicaci, dimusuhi, diperangi, namun manakala sudah tiba “waktu”-nya jaya, semua kesulitan akan hilang, musnah semua.

Nabi Muhammad seorang diri, ajarannya diterima sang istri, sepupu, teman sejawat, pembantu rumah tangga, musuh, dan semua kalangan, skhirnya dapat menaklukkan Makkah simbol kekuatan Jazirah Arabia. Dilanjutnya masa Khulaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Mamluk, Ayyubiyah, Mughal, Demak, Mataram Islam, hingga kesultanan Utsmaniah. Kesulitan hilang, kemudahan datang. Ketertindasan lenyap, datang kemenangan. “Inna ma’a ‘lyusri yusra

Muhammadiyah dicetuskan kyai cerdas dan berwawasan luas ke depan, K.H. Ahmad Dahlan, dikucilkan, dimusuhi, dikafirkan, pernah diancam pembunuhan, Langgarnya dirobohkan. Sekarang, ide-ide modernisasinya diserap luas banyak orang, kelompok, organisasi, bahkan negara. Formalnya mungkin ditolak, namun isinya dipakai dan dimanfaatkan.

K.H. Jazuli, awalnya berjuang sendiri, mendirikan taklim sederhana di desanya, mendirikan mushalla, lalu berdiri Pondok Pesantren al-Falah, Ploso, Kediri. Awalnya kecil dan penuh rintangan. Sekarang santrinya ribuan. Didampingi istri yang gigih dan pejuang. Siap menyokong ruhani dan duniawi dari “wingkin” dan juga depan, mampu mengantarkan Ponpes Ploso sebagai salah satu ponpes terbesar di Indonesia. Anaknya hebat-hebat, cucu-cucunya juga hebat-hebat.

Universitas al-Azhar, Universitas Qarawiyun, universitas tertua di dunia, didirikan perempuan-perempuan muslim hebat. Tentu tantangan dan rintangan selalu menyertai perkembangan dan kemajuan dua universitas hebat tersebut.

Ide Pan Islamisme Afghani, modernisme Abduh, yang disokong murid utamanya, Sayyid Rasyid Ridla al-Husaini, tidaklah mudah. Dituduh agen free Mansoory, atheis, antek Inggris, Mu’tazili, majalahnya dibredel penguasa, bahkan tafsirnya haram dibaca. Ketika “saat”-nya tiba, semua mata terbelalak, terkesima, hati terpatri, telinga menyimak seksama, negara-negara terjajah merdeka, ide modernisasinya diterima. Orangnya telah tiada, namun namanya harum, selalu disebut di mana-mana, murid kelilmuannya, cucu keilmuannya, tidak pernah mati dan padam, selalu menjadi inspirasi modernisasi dan kemajuan ummat Islam di mana-mana.

Keberhasilan tak melulu diukur kuantitas apalagi kuitansi, keberhasilan diukur seberapa kebenaran bisa abadi, walau seorang diri. Socrates, Galileo, Ibn Taimiyah, Diponegoro, Malim Basa, Kyai Hasyim, hingga Habib Riziq, membela kebenaran rela masuk bui.

Menjadi dai, guru, kyai, penegak kebenaran, tak mudah, namun wajib dilakukan. Pahit di depan, manis di belakang. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Search