Di Balik Angka Rapor: Islam Menata Ulang Cara Kita Mendidik Anak

Di Balik Angka Rapor: Islam Menata Ulang Cara Kita Mendidik Anak
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Kab. Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Setiap akhir semester, selembar rapor menjadi pusat perhatian. Wajah orang tua menegang, anak-anak diliputi cemas, dan angka-angka seolah berbicara lebih lantang daripada proses panjang belajar itu sendiri. Nilai tinggi disambut pujian, nilai rendah sering kali berujung kecewa—bahkan marah. Dalam realitas seperti ini, pendidikan kerap direduksi menjadi urusan angka. Padahal, Islam sejak awal telah menata pendidikan dengan paradigma yang jauh lebih luas, dalam, dan memanusiakan.

Pertanyaannya: apakah nilai rapor benar-benar mewakili keberhasilan pendidikan anak?

Pendidikan Islam: Bukan Sekadar Menghasilkan Angka

Dalam Islam, pendidikan (tarbiyah) tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya—akalnya tumbuh, hatinya hidup, dan akhlaknya terjaga. Ilmu tidak dimuliakan karena hasil ujian, melainkan karena dampaknya terhadap iman dan amal.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran nilai manusia—termasuk dalam pendidikan—bukanlah simbol lahiriah semata. Maka, ketika nilai rapor dijadikan satu-satunya tolok ukur, pendidikan berisiko kehilangan ruhnya.

Ibn Jamā‘ah: Adab Lebih Tinggi daripada Prestasi

Ibn Jamā‘ah (w. 733 H), seorang ulama besar pendidikan Islam, dalam Tadhkirah as-Sāmi‘ wa al-Mutakallim, menempatkan adab sebagai fondasi utama ilmu. Ia mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan adab akan kehilangan keberkahan, bahkan berpotensi menjerumuskan pemiliknya pada kesombongan.

Dalam pandangan Ibn Jamā‘ah, murid yang berakhlak baik namun terbatas secara akademik masih lebih dekat kepada keberhasilan pendidikan dibanding murid cerdas yang meremehkan nilai kejujuran dan etika. Jika hari ini anak dinilai hanya dari rapor, maka yang terabaikan adalah proses panjang pembentukan karakter—yang justru menjadi inti pendidikan Islam.

Az-Zarnūjī: Ilmu Dinilai dari Manfaat, Bukan Pujian

Syekh Burhānuddīn Az-Zarnūjī dalam Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum menegaskan bahwa niat adalah penentu kualitas ilmu. Ilmu yang dicari demi pujian, gengsi, atau pengakuan sosial akan cepat kehilangan keberkahannya.

Az-Zarnūjī menulis bahwa tujuan menuntut ilmu adalah untuk:

Menghilangkan kebodohan dari diri dan masyarakat

Menjaga dan menghidupkan agama

Memberikan manfaat nyata bagi sesama

Jika nilai rapor tinggi tidak berbanding lurus dengan tumbuhnya tanggung jawab, kepedulian, dan adab, maka angka tersebut tidak lebih dari capaian administratif yang hampa makna.

Setiap Anak Unik, Setiap Potensi Berharga

Islam memandang setiap anak sebagai amanah Allah dengan potensi yang berbeda-beda. Tidak semua anak unggul dalam ujian tertulis, tetapi boleh jadi unggul dalam ketekunan, empati, kepemimpinan, atau ketulusan membantu orang lain—nilai-nilai yang tidak selalu tercermin di rapor.

Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujādilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berdampingan dengan iman dan akhlak.

Bahaya Menjadikan Nilai sebagai “Tuhan Kecil”

Ketika nilai rapor dipertuhankan, pendidikan dapat melahirkan generasi yang:

Cerdas secara akademik tetapi rapuh secara mental

Berprestasi namun minim empati

Terampil berpikir tetapi miskin integritas

Ibn Jamā‘ah mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab hanya akan menambah kerusakan, sementara Az-Zarnūjī menegaskan bahwa ilmu tanpa niat yang lurus akan kehilangan manfaatnya. Inilah peringatan keras agar pendidikan tidak terjebak pada angka, tetapi kembali pada nilai.

Peran Guru dan Orang Tua: Menata Ulang Paradigma

Dalam Islam, guru adalah murabbi, pendidik jiwa sebelum pengajar materi. Orang tua pun dituntut untuk tidak menjadikan rapor sebagai alat vonis masa depan anak. Nilai rendah bukan akhir segalanya, sebagaimana nilai tinggi bukan jaminan keselamatan hidup.

Rasulullah bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ نِحْلًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada adab yang baik.”

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa adab adalah warisan terbaik—lebih bernilai daripada prestasi akademik semata.

Penutup: Mengembalikan Ruh Pendidikan

Nilai rapor penting, tetapi bukan segalanya. Pendidikan Islam hadir untuk menata ulang cara kita memandang keberhasilan belajar. Ibn Jamā‘ah mengajarkan adab sebagai fondasi ilmu, Az-Zarnūjī menanamkan niat dan keberkahan sebagai ruh pendidikan.

Di balik angka rapor, ada proses, doa, kegagalan, dan harapan. Ketika pendidikan kembali pada ruh Islam, maka yang lahir bukan sekadar anak berprestasi, tetapi manusia beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi kehidupan.

Referensi

  • 1. Al-Qur’an al-Karim.
  • 2. Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim.
  • 3. At-Tirmidzi. Sunan at-Tirmidzi.
  • 4. Ibn Jamā‘ah, Badruddīn. Tadhkirah as-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim.
  • 5. Az-Zarnūjī, Burhānuddīn. Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum.
  • 6. Al-Ghazali, Abu Hamid. Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn.

Tinggalkan Balasan

Search