Ramadan menapaki malam keduapuluhan. Malam membawa cahaya yang lebih bening. Seolah langit menunduk sedikit lebih dekat, mendengar doa yang perlahan tumbuh dari dada.
Masjid-masjid dipenuhi langkah yang pulang, seperti arus manusia menuju samudera. Doa-doa berlayar di udara malam, mencari langit yang menyimpan rahasia.
Di gerbang malam-malam akhir.
Di telapak tangan yang terangkat, harapan menyala seperti lampu kecil. Tak ada yang tahu di malam mana rahmat berlabuh, maka setiap sujud menjadi perjalanan.
Ramadan kini di malam-malam akhir, dan waktu berjalan lebih pelan dari biasanya. Barangkali karena langit sedang terbuka, menunggu hati yang sungguh-sungguh mengetuknya.
Barakallahu fiikum.
