Din Syamsuddin: Muhammadiyah Lahir Hasil Sintesa Berbagai Tradisi Intelektual Islam

Prof. Din Syamsuddin
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah bukanlah gerakan yang lahir dari satu aliran tunggal, melainkan hasil sintesis berbagai tradisi intelektual Islam yang membentuk karakter khas organisasi tersebut. Sumber-sumber pemikiran yang melahirkan corak keagamaan Muhammadiyah yang unik dan berimbang.

“Memahami genealogi Muhammadiyah berarti menelusuri ‘DNA intelektual’ gerakan ini,” kata Din Syamsuddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, pada Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (20/2/2026).

Din menjelaskan bahwa paham keagamaan Muhammadiyah bertumpu pada prinsip al-tawazun bayn al-tajrid wa al-tajdid, yakni keseimbangan antara pemurnian dan pembaruan. Tajrid ditempatkan dalam wilayah akidah dan ibadah mahdhah, yaitu upaya memurnikan ajaran agama dengan kembali kepada sumber asli tanpa penambahan praktik yang tidak memiliki dasar kuat. Sementara tajdid diarahkan pada bidang muamalah dan urusan keduniaan, yang menuntut pembaruan sesuai perkembangan zaman.

Keseimbangan keduanya menjadi jalan tengah Muhammadiyah, di mana satu sisi menjaga kemurnian ajaran, sisi lainnya membuka ruang kemajuan. Dalam kerangka ini, Islam dipahami sebagai agama yang shalih li kulli zaman wa makan sehingga harus mampu menjawab persoalan kehidupan manusia yang terus berubah.

Jejak Ulama Nusantara

Din Syamsuddin menegaskan bahwa pemikiran Ahmad Dahlan tidak muncul dalam ruang kosong. Pendiri Muhammadiyah itu banyak dipengaruhi ulama Nusantara, antara lain: KH Abu Bakar, Saleh Darat (Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani), dan Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Soleh Darat dikenal sebagai ulama produktif yang menulis karya dari bidang akidah hingga tasawuf. Salah satu karyanya, Tafsir Faidur Rahman, merupakan tafsir Al-Qur’an pertama berbahasa Jawa dan diduga kuat dipelajari oleh Dahlan muda (Darwisy). Selain itu, kitab falaknya Washilatut Thullab juga memberi pengaruh intelektual penting.

Adapun Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama besar Nusantara di Makah, memiliki keahlian dalam fikih, falak, hisab, dan matematika. Sikap kritisnya terhadap praktik tarekat tertentu serta semangat anti-kolonial turut membentuk orientasi pemikiran Ahmad Dahlan, termasuk dorongan menuju kebangkitan umat dan kesadaran kebangsaan.

Pengaruh dari Para Ulama Dunia Islam

Selain ulama Nusantara, Muhammadiyah juga dipengaruhi kuat oleh arus pembaruan Islam global, terutama dari Muhammad Abduh, Muhammad Rashid Rida, dan Jamal al-Din al-Afghani.

Abduh dikenal melalui gagasan rasionalisasi tauhid dan pembaruan pemikiran Islam. Karya seperti Risalat al-Tauhid serta majalah Al-‘Urwat al-Wutsqa, yang ia rintis bersama Al-Afghani di Paris, memberikan inspirasi luas bagi kebangkitan intelektual Muslim, termasuk Ahmad Dahlan.

Sementara Rasyid Ridha mengembangkan pendekatan al-ishlah (perbaikan), dengan menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah sekaligus mendorong adopsi ilmu pengetahuan modern sebagai sarana kemajuan umat.

Dalam aspek teologi, Din menjelaskan bahwa Muhammadiyah dipengaruhi berbagai arus pemikiran, antara lain tradisi Asy’ariyah, pemikiran Ibn Taymiyyah, serta gagasan ulama klasik seperti Al-Maqrizi.

Ibnu Taimiyah menekankan kembali kepada praktik generasi awal Islam (al-salaf al-shalih) serta kritik terhadap takhayul, bid’ah, dan khurafat. Namun Din menegaskan bahwa orientasi salaf dalam Muhammadiyah bukanlah tekstualisme kaku, melainkan ittiba’ al-rasul yang rasional.

Konsep kerja (al-kasb) dalam teologi Asy’ariyah juga menjadi unsur penting. Prinsip ini memadukan peran manusia dan kehendak Tuhan, mendorong etos kerja, prestasi, dan kemajuan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Akal dan Wahyu sebagai Pilar

Din menyoroti pentingnya relasi akal dan wahyu dalam tradisi pemikiran Muhammadiyah. Mengikuti gagasan Abduh, akal dipandang sebagai potensi utama manusia dan alat untuk memahami wahyu secara benar.

Pendekatan ini melahirkan ciri teologi Muhammadiyah yang rasional dalam berakidah, menolak fatalisme, menentang takhayul, bid’ah, dan khurafat, serta menjadikan pemurnian tauhid sebagai basis kebangkitan umat dan pembebasan dari penjajahan.

Din merangkum sejumlah isu teologis utama yang membentuk paham keagamaan Muhammadiyah, yaitu:

  1. Tauhid,
  2. kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah,
  3. relasi agama dan akal,
  4. kerja dan peradaban (al-kasb wa al-hadharah),
  5. teologi praksis Al-‘Ashr dan Al-Ma’un yang menekankan aksi sosial.

Menurut Din, paham keagamaan yang dirintis Ahmad Dahlan kemudian mengalami proses ideologisasi lebih sistematis pada masa kepemimpinan Mas Mansur. Meski demikian, ideologi Muhammadiyah tetap bersifat terbuka. Karena itu, ia menegaskan perlunya reinterpretasi, reaktualisasi, revitalisasi, dan rekonstruksi pemikiran agar Muhammadiyah tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

“Genealogi Muhammadiyah menunjukkan bahwa gerakan ini sejak awal berdiri di atas dialog tradisi dan pembaruan. Karena itu, Muhammadiyah harus terus bergerak sebagai gerakan tajdid yang berakar kuat pada tauhid sekaligus responsif terhadap realitas kehidupan,” tandasnya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search