Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah adalah Surat Tugas!

Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah adalah Surat Tugas!
www.majelistabligh.id -

Prosesi wisuda sering kali dipandang sebagai garis akhir perjuangan mahasiswa. Namun, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., justru menegaskan sebaliknya: wisuda adalah awal dari ujian kehidupan yang sesungguhnya.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Najib saat memberikan pembekalan kepada para wisudawan dalam Wisuda ke-48 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (24/10/2026).

Di hadapan ratusan wisudawan, Prof. Najib mengajak wisudawan memaknai ijazah. “Ijazah yang kalian pegang saat ini sebetulnya adalah surat tugas,” ujar Prof. Najib.

Peneliti LIPI/BRIN sekaligus alumnus University of California, Santa Barbara (UCSB) ini mengaitkan ijazah dengan Surat Izin Mengemudi (SIM). Menurutnya, ijazah menandai bahwa seorang lulusan telah memenuhi syarat formal untuk ‘berkendara’ di jalan raya kehidupan. Namun, kecakapan sebenarnya baru diuji saat mereka berhadapan langsung dengan dinamika lapangan.

“Kalian harus mampu bernavigasi di tengah kemacetan realitas, seperti ketidakpastian dunia kerja. Kemampuan mengambil keputusan bijak dan bertahan di tengah tantangan adalah ujian sesungguhnya setelah meninggalkan kampus,” terangnya.

Ia menambahkan, teori dan praktik di bangku kuliah hanyalah modal awal. Untuk memenangkan masa depan, lulusan membutuhkan integritas, karakter kepemimpinan, dan mentalitas pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

Gelar untuk Kebermanfaatan

Prof. Najib juga mengingatkan agar para wisudawan tidak terjebak dalam euforia gelar akademik semata. Kebanggaan atas gelar harus diwujudkan dalam bentuk karya nyata yang membawa dampak positif bagi masyarakat.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan Teologi Al-Ma’un yang diajarkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang menekankan pentingnya kesalehan sosial.

“Orang yang berpendidikan pun bisa celaka jika justru sombong dengan gelar akademiknya dan tidak memberi manfaat bagi manusia serta alam semesta. Setelah mengucap syukur atas kelulusan, syukur itu harus diwujudkan menjadi karya dan manfaat,” tegasnya.

Menutup orasinya, Prof. Najib berpesan agar wisudawan tidak mengukur keberhasilan hanya dari kemewahan atau gengsi suatu pekerjaan. Mengutip ungkapan legendaris “be the best of whatever you are”, ia mendorong lulusan untuk memberikan pengabdian terbaik pada profesi apa pun yang mereka geluti.

“Jika kalian menjadi penyapu jalan, sapulah jalanan itu seperti Michelangelo melukis, Shakespeare menulis puisi, atau Beethoven menggubah musik. Menang atau gagal tidak ditentukan dari menterengnya pekerjaan, melainkan dari sejauh mana kita menjadi yang terbaik dan menjalankan peran dengan penuh cinta serta istikamah,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search