Ditegur Seekor Anjing

Ditegur Seekor Anjing
*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Seorang sufi apalagi ulama besar, tidaklah mendapatkan sebuah pelajaran, hikmah, hanya dari buku, kitab-kitab saja. Ia akan mencari hikmah-hikmah yang bertebaran di dunia ini. Seperti halnya Abu Yazid al-Busthami yang mendapatkan sebuah hikmah dari selain buku.

Suatu hari Abu Yazid al-Busthami mendapatkan ilmu berharga dari seekor anjing liar di tepi jalan. Saat berjalan sendiri pada malam hari, beliau melihat seekor anjing yang terus berjalan ke arahnya. Seketika Abu Yazid mengangkat jubahnya karena anjing tersebut terus mendekat ke arahnya, khawatir jubahnya najis jika tersentuh anjing tersebut.

Anjing itu pun spontan berhenti dan memandang Abu Yazid al-Busthami. Kemudian anjing tersenyum seolah berkata kepadanya.

“Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalau pun terkena najis, engkau cukup membasuh 7 kali dengan air dan salah satunya dengan tanah, maka najis di tubuhmu pun akan hilang. Tapi jika engkau mengangkat jubahmu karena engkau menganggap dirimu lebih mulia, lalu menganggapku anjing yang hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walaupun engkau membasuhnya dengan 7 lautan,” ucap anjing jalanan itu.

Abu Yazid merasa tertampar mendengar ucapan anjing itu, dan langsung meminta maaf. Abu Yazid mengajak anjing itu untuk bersahabat dengannya sebagai permohonan maaf yang tulus, namun anjing itu menolaknya.

“Engkau tak patut berjalan denganku. Karena mereka yang memuliakanmu akan mencemooh dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka mengangngapku hina, padahal aku berserah diri kepada Sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku tak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum,” pungkas anjing itu, sembari meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid pun termenung dan berkata, “Ya Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja, aku tak layak. Bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-Mu, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari segala kotoran.”

Sejak peristiwa itu, Abu Yazid al-Busthami senantiasa memuliakan semua makhluk Allah tanpa pandang bulu.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search