Ditolak Hotel Tapi Diterima Masjid

Ditolak Hotel Tapi Diterima Masjid
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandagsemangkon Paciran Lamonngan Jawa Timur.
www.majelistabligh.id -

Kisah perjalanan mudik yang penuh keterbatasan. Suami Istri Andi dan Sari menemukan satu hal yang tak ternilai. Menemukan tempat singgah di masjid.

Hujan turun tanpa aba-aba. Rintiknya bukan lagi pelan, tapi seperti langit sedang menumpahkan semua lelahya malam itu. Jalanan gelap, lampu kedaraan sesekali menyilaukan. Di atas motor tua, Andi meggenggam erat stang, sementara istrinya, sari, memeluk dari belakag dengan erat.

Jaket tipis yag mereka pakai sudah tak mampu menahan air. Tas di depan pun mulai basah. Mereka mulai diam beberapa detik. Bukan tidak tahu harus bagaimana, tapi karena pilihan meraka memag terbatas. Uang di kantog pas-pasan. Cukup untuk bensin, makan seadanya, dan sedikit oleh-oleh untuk keluarga di kampung.

Hotel?
Itu sudah mereka coret dari awal perjalanan.

Sebentar lagi cari tempat singgah ya? ‘kata Andi kepada istrinya”, sebenarnya ia juga lelah. Tak lama dari kejauhan, terlihat cahaya tamaram. Sebuah Masjid berdiri sederhana di pinggir jalan. Tidak besar, tidak megah, tapi cukup terang dan terlihat hidup.

Mereka berhenti, mesin dimatikan. Hujan masih turun, tapi setidaknya ada tempat berteduh.

Andi ragu sejenak, boleh nggak ya kita istirahat di sini? … gumanya. Lelah mereka lebih kuat dari rasa sungkan. Mereka turun. Langkah pelan menaiki teras masjid. Air menetes dari ujung pakaian mereka, membentuk genangan kecil di lantai.

Belum sempat Andi berkata apa-apa … seorang Bapak tua keluar dari dalam Masjid, mengenakan sarung dan peci. Wajahnya tenang, tatapanya hangat. “Mampir Nak? Tanyanya lembut. Andi langsung menunduk sedikit. Iya pak maaf kami Cuma mau istirahat sebentar … hujan. Belum selesai Andi bicara, bapak itu tersenyum.

Masjid ini bukan hanya untuk salat nak… tapi juga juga untuk yang butuh berteduh. Andi terdiam. Kalimat sederhana…tapi entah kenapa, seperti menembus sampai ke hati.

Masuk saja … di dalam lebih hangat. Itu ada karpet, bisa dipakai istirahat. Mau bikin teh juga ada air panas, lanjut bapak itu.

Sari menahan air mata
Bukan karena sedih… tapi merasa dihargai

Di tempat yang mereka kira akan membuat mereka merasa “tidak enak” justru mereka diperlakukan seperti tamu yang dimuliakan.

Kadang Allah kirim pertolongan bukan lewat uang… tapi lewat kebaikan orang lain.. bisiknya Andi kepada istrinya.

Bapak tadi kembali datang dengan membawa dua gelas teh hangat. Andi menerima dengan tangan gemetar ‘terima kasih bapak”

Kata bapak ini “ Kalau kita di jalan, kita semua adalah tamu. Dan sebaik-baiknya tempat singgah adalah rumah Allah (Masjid). (by &an2-28i)

Dari kisah tersebut. Bahwa kebaikan, masih hidup, masih nyata, dan kadang datang dari tempat yang paling sederhana.

Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat pulang bagi hati yang lelah. Dan kebaikan sekecil apapun bisa menjadi pelindung bagi seseorang di perjalalan hidupnya.

Makna yang bisa ditarik:
* Kesederhanaan vs. kemewahan: meski ditolak oleh tempat yang berorientasi pada status, seseorang tetap diterima di rumah Allah yang terbuka untuk semua.
* Penghiburan spiritual: penolakan duniawi tidak berarti penolakan Ilahi. Masjid selalu menerima siapa pun yang datang dengan hati tulus.
* Pesan motivasi: jangan berkecil hati jika ditolak oleh manusia atau sistem; ada tempat yang lebih mulia yang selalu terbuka.

Allah berfirman:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Artiya: Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah: 18)

Bisa dipertegas dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menekankan masjid sebagai rumah Allah, tempat aman, terbuka, dan penuh penerimaan. Ayat yang paling relevan adalah Al-Baqarah 125, Al-Baqarah 114, dan At-Tawbah 18, karena semuanya menegaskan fungsi masjid sebagai tempat ibadah yang tidak boleh ditutup bagi siapa pun. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search