Diva Angga Permana menyampaikan khutbah Jumat dalam rangkaian kegiatan Diklat Dewan Kerabat dan SMA Fourmula Youth Adventure 2026 yang diselenggarakan oleh Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Qabilah KH Mas Mansoer SMA Muhammadiyah 4 Lamongan (SMA Fourmula), Jumat (30/1/2026). Diklat Dewan Kerabat dan SMA Fourmula Youth Adventure 2026 yang digelar di Wisata Air Terjun Dlundung, Trawas, Mojokerto, pada Jumat–Sabtu (30–31/1/2026).
Dalam khutbahnya, Angga—sapaan akrab Diva Angga Permana—mengulas kandungan QS An-Nisa ayat 36 sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi. Ayat tersebut menegaskan perintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
“Ibadah kepada Allah adalah ibadah khusus yang tidak bisa kita ubah, tidak bisa kita tambahi, dan tidak bisa kita kurangi. Ibadah itu adalah bentuk pengabdian dan penyembahan yang murni hanya kepada Allah dengan penuh keikhlasan,” ujarnya.
Menurut Angga, mengesakan Allah merupakan hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba. Wujud ibadah tersebut tampak dalam amal perbuatan sehari-hari yang telah dicontohkan Rasulullah, seperti syahadat, shalat, zakat, puasa, serta ibadah haji bagi yang mampu.
Ia menegaskan bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Khalik, tetapi juga tercermin dalam ibadah sosial yang berhubungan dengan sesama makhluk.
“Ibadah umum itu diwujudkan dengan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun jauh, teman sejawat, ibnu sabil atau orang yang sedang dalam perjalanan, serta kepada hamba sahaya yang pada masa Rasulullah merupakan bagian dari realitas sosial,” kata Angga.
Khutbah tersebut menjadi penguatan spiritual bagi para peserta Diklat Dewan Kerabat dan SMA Fourmula Youth Adventure 2026 agar nilai-nilai ketauhidan tidak hanya dipahami secara ritual, tetapi juga diwujudkan dalam sikap kepedulian sosial dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan keagamaan ini sekaligus menegaskan bahwa proses pembinaan kepanduan Hizbul Wathan tidak hanya menekankan aspek fisik dan kepemimpinan, tetapi juga pembentukan karakter religius dan sosial para peserta. (fathan faris saputro)
