Setiap manusia menyenangi pujian, mencitrakan dirinya agar mendapatkan pujian dan penghormatan. Setiap manusia akan lari dari celaan. Dia tidak suka dicela oleh manusia.
Padahal saudaraku, siapa pun yang berpikir, dia akan mendapatkan bahwasanya celaan lebih bermanfaat untuk dirinya dibandingkan dengan pujian. Karena apabila kita dipuji orang, apabila pujian itu benar ada pada diri kita, sering kita terkena penyakit ujub dan kesombongan. Apabila ternyata pujian itu tidak ada pada diri kita dan kita merasa senang, maka kita masuk dalam sabda Rasul,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi waa sallam bersabda:
“Siapa yang merasa puas dengan sesuatu yang tidak ada dirinya, dia bagaikan memakai dua pakaian kedustaan.” (HR Muslim)
Adapun celaan, apabila kita dicela orang dan ternyata celaan itu memang ada pada diri kita, maka jadikan itu sebagai alat introspeksi diri. Celaan itu, tidak akan bermudarat sama sekali buat kita.
Apabila ternyata celaan tidak ada pada diri-diri kita, maka kita mendapatkan pahala dari dia tanpa harus beramal saleh.
Oleh karena itu Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan:
“Tidak akan membahayakan kamu orang-orang yang mencela kamu.”
Barakallahu fiikum.
