Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Dominic Jermey CVO, OBE, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Muhammadiyah dalam menggerakkan internasionalisasi organisasinya.
Apresiasi tersebut mengemuka seiring keberhasilan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia menorehkan sejarah sebagai organisasi asal Indonesia pertama yang resmi bergabung dalam Muslim Council of Britain (MCB).
MCB sendiri merupakan payung organisasi Muslim terbesar di Inggris yang menaungi lebih dari 500 masjid, lembaga pendidikan, badan amal, hingga asosiasi profesi.
“Ini merupakan tonggak sejarah penting, bukan hanya bagi Muhammadiyah dan diaspora Indonesia, melainkan juga bagi perkembangan hubungan antara komunitas Muslim di Indonesia dan Inggris,” ujar Jermey dalam keterangan resminya, Sabtu (3/10/2026).
Jermey memaparkan, berdasarkan Sensus 2021, populasi Muslim di Inggris telah mencapai 4,1 juta jiwa. Angka ini menempatkan Islam sebagai agama terbesar kedua setelah Kristen. Komunitas Muslim di sana berperan aktif dalam mengelola sekolah, layanan kesejahteraan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat lokal.
Ia membeberkan sejumlah contoh nyata kontribusi Muslim di ruang publik Inggris, mulai dari kepemimpinan Sadiq Khan sebagai Wali Kota London, kota dengan sekitar 1,3 juta penduduk Muslim, hingga rekam jejak pesepak bola Liverpool, Mohamed Salah.
“Jutaan orang mengagumi Mo Salah karena kemampuannya di lapangan, sekaligus menghargai keimanan dan identitasnya sebagai bagian penting dari jati dirinya,” tutur Jermey yang juga pendukung Chelsea tersebut.
Gali Inspirasi dari ‘Bhinneka Tunggal Ika’
Menurut Jermey, kolaborasi Lintas Agama di Inggris berjalan konkret, salah satunya melalui agenda tahunan Inter Faith Week (Pekan Kerukunan Antar-Iman) yang dijadwalkan berlangsung pada 8–15 November 2026.
Pengalaman bertugas di Indonesia membuatnya makin mengagumi prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Komitmen Indonesia dalam merawat keberagaman dinilainya sebagai pelajaran berharga bagi dunia internasional, termasuk Inggris.
“Seiring bertumbuhnya keberagaman di Inggris, ada banyak hal yang dapat kami pelajari dari pengalaman Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan budaya, identitas, dan keyakinan,” ungkapnya.
Jermey menilai kehadiran PCIM Inggris memberikan warna positif dalam ruang diskusi pendidikan dan pelayanan sosial. Pertukaran gagasan ini diperkuat oleh interaksi para tokoh Muhammadiyah di tingkat global.
Salah satunya terlihat dari kunjungan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni, ke institusi bereputasi seperti Oxford Centre for Islamic Studies dan East London Mosque. Selain itu, ia menyebut sosok Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, yang merupakan alumnus program Chevening Fellowship di Universitas Birmingham tahun 2004.
“Program pendidikan dan pertukaran semacam ini melahirkan calon pemimpin masa depan, memperkuat jejaring profesional, serta memperdalam pemahaman antar-masyarakat,” jelas Jermey. (*/tim)
