Dunia Bergejolak, Isu Perang Dunia III, dan Cara Iman Membaca Tanda Zaman

Dunia Bergejolak, Isu Perang Dunia III, dan Cara Iman Membaca Tanda Zaman
*) Oleh : Muhammad Al Hafidz, S.Ag
DaI LDK Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Setiap kali dentuman konflik terdengar dari berbagai belahan dunia, setiap kali negara – negara besar saling mengancam dengan rudal dan sanksi ekonomi, ruang digital pun segera riuh: “Perang Dunia III sudah di depan mata.”

Ketakutan menyebar lebih cepat daripada peluru. Potongan pidato para pemimpin dunia beredar tanpa konteks. Analisis geopolitik bercampur dengan teori konspirasi. Sebagian orang mulai membayangkan kiamat global, sebagian lainnya menimbun logistik, dan tidak sedikit yang berkata dengan yakin, “Ini sudah tanda akhir zaman.”

Sebagai muslim, wajar jika kita mengaitkan keguncangan global dengan nubuwat Rasulullah.

Namun pertanyaannya: apakah setiap perang besar otomatis berarti kiamat sudah di ambang pintu? Ataukah kita perlu membaca zaman dengan iman yang jernih, bukan dengan kepanikan?

Tulisan ini mengajak kita menenangkan hati, memperdalam dalil, dan menata sikap.

  1. Peperangan Besar dalam Nubuwat Rasulullah

Tidak dapat dipungkiri, hadist hadist sahih memang menyebutkan bahwa menjelang kiamat akan terjadi peperangan besar.

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ، دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga dua kelompok besar berperang, sementara seruan keduanya satu.” (HR. Muslim)

Hadis ini sering dikutip ketika dunia memanas. Dua kelompok besar. Sama-sama merasa benar. Sama-sama membawa legitimasi dan klaim kebenaran.

Dalam riwayat lain disebutkan tentang Al-Malhamah Al-Kubra yakni perang besar yang dahsyat:

فَتَكُونُ مَلْحَمَةٌ عَظِيمَةٌ

“Lalu terjadilah peperangan besar.” (HR. Abu Dawud)

Nubuwat ini pasti benar. Namun para ulama sepanjang sejarah menafsirkannya dengan sangat hati-hati.

Tidak ada satu pun generasi yang berani memastikan secara mutlak, “Inilah perang yang dimaksud.”

Sebab sejarah telah berkali-kali mencatat peperangan besar, dari perang dunia pertama, perang dunia kedua, hingga konflik global modern dan setiap zaman merasa dirinya berada di ujung sejarah.

Di sinilah kita perlu bersikap proporsional. Meyakini hadis adalah bagian dari iman. Tetapi memastikan kapan dan di mana terjadinya bukan wilayah manusia.

Yang berbahaya justru ketika setiap krisis langsung dilabeli sebagai “tanda final”. Akibatnya, sebagian orang kehilangan rasionalitas, bahkan kehilangan semangat berkarya. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan kepanikan kolektif.

  1. Kiamat Itu Dekat Namun Bukan untuk Diprediksi

Al-Qur’an telah mengingatkan sejak lebih dari empat belas abad lalu:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling.” (QS. Al-Anbiya: 1)

Ayat ini turun ketika dunia belum mengenal senjata nuklir. Belum ada perang global modern. Namun Allah sudah menyatakan: telah dekat.

Artinya, kedekatan kiamat bukan persoalan kalender geopolitik. Ia adalah kepastian eksistensial. Setiap kali ajal seseorang tiba, baginya itulah kiamat.

Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Muslim:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

“Bersegeralah melakukan amal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap.” (HR. Muslim)

Perhatikan arah hadis ini. Nabi tidak memerintahkan umatnya menghitung kapan fitnah datang. Beliau memerintahkan bersegera dalam amal.

Hari ini, dunia memang dipenuhi “malam gelap”: disinformasi, propaganda, polarisasi politik, krisis moral, dan perang opini yang tak kalah memecah belah dibanding perang fisik.

Namun respons mukmin bukan menebak-nebak timeline kiamat. Responsnya adalah memperbaiki diri sebelum gelap itu benar-benar menelan kesadaran dan iman.

  1. Etika Mukmin: Tetap Menanam di Tengah Ancaman

Ada satu hadistl yang sangat menggugah, diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka tanamlah.” (HR. Ahmad)

Bayangkan suasananya. Kiamat sudah di depan mata. Langit terbelah. Dunia runtuh. Namun Nabi tetap menyuruh menanam. Mengapa?

Karena Islam adalah agama tanggung jawab, bukan kepasrahan.

Agama harapan, bukan kepanikan.

Isu Perang Dunia III boleh saja menjadi alarm moral. Ia bisa menjadi pengingat bahwa peradaban manusia rapuh. Bahwa keserakahan, ambisi kekuasaan, dan kerakusan ekonomi bisa menyeret dunia ke jurang kehancuran.

Namun bagi seorang mukmin, keguncangan global justru memperjelas satu hal: yang perlu disiapkan bukan bunker, tetapi bekal amal.

Jika dunia benar-benar memasuki fase genting, maka yang harus diperkuat adalah:

  • Iman yang kokoh, bukan rasa takut berlebihan.
  • Ilmu yang jernih, bukan kabar yang belum tentu benar.
  • Amal nyata, bukan sekadar status dan spekulasi.

Pada akhirnya, kiamat terbesar bagi setiap manusia bukanlah ledakan nuklir atau runtuhnya sistem global.

Kiamat terbesar adalah saat malaikat maut datang, sementara kita belum siap.

Maka, boleh saja dunia berguncang.

Boleh saja isu perang menggema.

Namun selama napas masih ada, selama tangan masih mampu bergerak, selama hati masih bisa bertobat, tugas kita tetap sama: memperbaiki diri, menebar manfaat, dan menanam kebaikan.

Bukan soal apakah Perang Dunia III akan terjadi.

Tetapi jika benar terjadi, apakah iman kita cukup kuat untuk tetap tegak di tengahnya? Pikirkanlah hal itu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search