Dusta Kolektif Berbungkus Agama

www.majelistabligh.id -

*)Oleh : Syahrul Ramadhan, S.H., M.Kn., C.LQ.

Kebohongan yang berdiri sendiri adalah sebuah dosa. Namun lebih besar mudaratnya adalah kebohongan yang dikoordinir secara sistematis untuk mendukung kejahatan, dengan motif membungkam kebenaran, mengadu domba, menjatuhkan yang benar, dan menyokong yang zalim. Ironisnya, kebohongan semacam ini seringkali tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh struktur, narasi, dan figur—termasuk mereka yang mengklaim diri sebagai pembela agama atau orang-orang saleh.

Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah umat. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa pengkhianatan terbesar sering lahir dari kemunafikan yang dibungkus kealiman. Artikel ini akan mengurai bahaya kebohongan yang dikoordinir.

  1. Kebohongan sebagai Kejahatan Terencana

Kebohongan bukan sekadar “ketidaksesuaian antara ucapan dan kenyataan”, tetapi bisa menjadi alat kekuasaan dan kezaliman. Jika dilakukan secara kolektif dan sistematis, kebohongan menjadi bagian dari konspirasi—yakni al-maidzin, kejahatan yang disusun untuk membungkam kebenaran dan mencemari nama baik orang-orang benar.

QS Al-Ahzab  menegaskan:

“Wa alladzīna yu’dzūnal mu’minīna wal mu’mināti bighairi maktasabū faqadih-tamalū buhtānan wa itsman mubīnā.”

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS Al-Ahzab)

Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa menyakiti orang beriman dengan tuduhan yang tidak berdasar adalah kebohongan besar dan dosa nyata. Dalam konteks modern, ini mencakup rekayasa kasus, pembunuhan karakter melalui media sosial, hingga fitnah publik terhadap orang-orang saleh dan amanah.

  1. Budaya Meremehkan dan Mengolok sebagai Cikal Fitnah

Dalam QS Al-Hujurat: 11–12, Allah menegaskan larangan saling merendahkan, mencela, dan mencurigai—sebagai bentuk penghinaan sosial yang bisa berujung pada fitnah dan kebohongan terorganisir:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū lā yaskhar qaumun min qaumin ‘asā ay yakūnū khairan minhum…”

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok) lebih baik dari mereka (yang mengolok)…”(QS Al-Hujurat)

“Yā ayyuhalladzīna āmanū ijtanibū katsīran minaz zhanni, inna ba‘ḍazh zhanni itsm, wa lā tajassasū wa lā yakhtab ba‘ḍukum ba‘ḍā…”

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”(QS Al-Hujurat)

Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa fitnah sosial, dusta kolektif, dan koordinasi kejahatan moral sering berangkat dari budaya saling meremehkan dan mencurigai, bahkan dari kalangan yang mengaku sesama mukmin. Bila tidak dijaga, sikap ini berubah menjadi penggiringan opini publik yang didasari dusta, dan itu adalah bentuk persekongkolan kejahatan yang nyata.

  1. Ketika Inisiatornya Mengaku Orang Beriman: Peringatan QS As-Shaff 2–4

Fenomena yang paling mengerikan adalah ketika penginisiasi kebohongan kolektif datang dari mereka yang dikenal sebagai tokoh agama atau orang yang tampil religius. Di balik penampilannya, mereka menyusun narasi kebohongan demi agenda pribadi atau golongan.

QS As-Shaff: 2–4 memberi teguran keras:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū lima taqūlūna mā lā taf‘alūn. Kabura maqtan ‘indallāhi an taqūlū mā lā taf‘alūn.”

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS As-Shaff)

Ayat ini menyindir keras orang-orang yang berkata atas nama Allah atau agama, namun tindakannya justru menyalahi prinsip kejujuran dan keadilan. Bahkan mereka membungkus kebohongan demi legitimasi agama ini bentuk munafik yang nyata.

“Inna Allāha yuḥibbul lażīna yuqātilūna fī sabīlihī ṣaffan kaannahum bunyānun marṣūṣ.”

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”

(QS As-Shaff)

Allah menyukai keteraturan dalam jihad, bukan dalam persekongkolan kebohongan. Maka pengorganisasian untuk kezaliman dan pendustaan adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang batil terhadap struktur kebenaran.

Kebohongan yang dikoordinir bukan sekadar kebohongan biasa,ia adalah konspirasi kejahatan yang bisa menghancurkan tatanan masyarakat, dan menyakiti orang-orang jujur tanpa kesalahan. Ketika kebohongan itu dipimpin oleh mereka yang mengaku paham agama, maka rusaklah dua hal sekaligus: kebenaran dan kepercayaan terhadap agama.

Islam menegaskan bahwa kejujuran adalah pondasi umat, dan bahwa dusta, meski disusun rapi dan ditopang tokoh, tetaplah kejahatan di mata Allah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search