Ekosistem Pendidikan Muhammadiyah Harus Jadi Solusi

Ekosistem Pendidikan Muhammadiyah Harus Jadi Solusi
www.majelistabligh.id -

Peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia dalam bidang literasi, numerasi, dan sains tercatat masih berada di papan bawah Asia, hanya unggul dari Kamboja. Kondisi ini menegaskan perlunya perbaikan mendasar pada sistem pendidikan nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, MPd., MEd., PhD., dalam Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) AMM DIY di Aula Kantor PWM DIY, Gedongkuning, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

“Indikator makro menunjukkan positioning pendidikan kita masih sangat jauh. Di tingkat Asia, peringkat PISA Indonesia berada di posisi ke-6, berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia. Kita hanya berada di atas Kamboja,” papar Sayuti.

Sayuti menegaskan, dengan modal sejarah panjang serta pengelolaan lebih dari 6.024 sekolah/madrasah dan lebih dari 1 juta siswa di seluruh tanah air, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral dan posisi strategis untuk mendorong perubahan mendasar pada kualitas pendidikan Indonesia.

Menurut Dosen Pendidikan Vokasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini, salah satu kendala utama pendidikan nasional adalah ketidakberlanjutan kebijakan akibat pergantian kepemimpinan atau menteri. Kebijakan sering kali berganti sebelum dampaknya terlihat secara optimal.

Ia mencontohkan program pembangunan SD Inpres pada era Orde Baru yang berorientasi perluasan akses. Dampak positifnya terhadap pemerataan dan pertumbuhan ekonomi nasional baru terasa secara signifikan setelah 15 hingga 20 tahun kemudian.

“Problem besar pendidikan kita adalah kebijakan yang tidak dijadikan komitmen jangka panjang. Kita harus mengambil pelajaran berharga (lesson learned) dari situasi tersebut,” tegas Sayuti.

Selain persoalan kontinuitas kebijakan, Sayuti membeberkan bahwa sistem pendidikan Indonesia saat ini masih terlalu formalistik, berorientasi semata pada ujian, serta cenderung memicu pola belajar hafalan.

Menurutnya, instrumen evaluasi—seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA)—seharusnya mendorong perubahan cara mengajar guru secara substansial, bukan sekadar melatih siswa menghadapi tes.

Pendidikan Holistik Muhammadiyah sebagai Solusi

Menghadapi tantangan birokrasi dan formalisme tersebut, Sayuti menekankan pentingnya ekosistem pendidikan Muhammadiyah untuk hadir memberikan alternatif yang nyata dan konstruktif.

“Muhammadiyah harus berani bergeser dari program-program yang sekadar formalistik menuju arah yang lebih substansial,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah konsisten mengusung pendidikan holistik yang menyatukan pengembangan aspek lahir dan batin, serta keseimbangan antara orientasi kehidupan dunia dan akhirat.

“Semoga melalui kekuatan ekosistem pendidikan yang kita miliki, Muhammadiyah mampu menjadi penggerak utama dalam memperbaiki kualitas dan masa depan pendidikan di Indonesia,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search