Eksistensi Tuhan: Antara Muncul dan Tenggelam

Eksistensi Tuhan: Antara Muncul dan Tenggelam
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Semua manusia bertuhan. Namun terkadang diungkapkan, bahkan diyakini eksistensi dan kebermanfaatnnya. Tidak sedikit manusia yang tidak mempercayai keberadaan dan kebermanatannya. Eksistensi Tuhan akan muncul ketika manusia dalam keadaan terdesak dan diliputi musibah. Nabi diutus untuk mengingatkan adanya Tuhan dan mengajak umatnya untuk mensyukuri eksistensi dan kebermanfaatan-Nya. Nabi menunjukkan jalan menuju Tuhan, merasa bersama  dan meraih kemuliaan dengan-Nya..

Eksistensi Tuhan

Eksistensi Tuhan sesungguhnya bukan sekadar persoalan teologis, melainkan persoalan eksistensial manusia. Dalam banyak keadaan, manusia tampak melupakan Tuhan, seolah kehidupan berjalan sepenuhnya oleh kekuatan dirinya sendiri. Namun pada saat kesulitan datang, ketika harapan duniawi runtuh, dan segala sandaran manusia tidak lagi mampu menolong, kesadaran akan Tuhan muncul kembali dengan kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap Tuhan tidak sepenuhnya hilang, melainkan sering tenggelam di balik kesombongan, kelalaian, dan kenikmatan dunia.

Namun di sisi lain, manusia mengakui dan mengharapkan pertolongan-Nya, namun melalui perantara selain Allah. Dengan kata lain, mereka mengakui kekuasaan Allah serta meminta kepada-Nya secara tidak langsung, menggunakan makhluk sebagai pihak ketiga yang dianggap mampu menyampaikan hajatnya kepada Allah. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia sering mencari perantara, simbol, bahkan kekuatan lain sebagai sandaran hidup. Padahal, di balik semua itu, hati kecil manusia tetap mengetahui bahwa hanya Tuhanlah tempat kembali yang sejati. Salah satu watak manusia yang digambarkan Al-Qur’an adalah mudah mengingat Tuhan saat menghadapi kesulitan, tetapi melupakan-Nya saat berada dalam kelapangan. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَاِ ذَا مَسَّ الْاِ نْسَا نَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهٗ مُنِيْبًا اِلَيْهِ ثُمَّ اِذَا خَوَّلَهٗ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَا نَ يَدْعُوْۤا اِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلّٰهِ اَنْدَا دًا لِّيُـضِلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيْلًا ۖ اِنَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّا رِ

Dan apabila manusia ditimpa bencana, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya; tetapi apabila Dia memberikan nikmat kepadanya, dia lupa (akan bencana) yang pernah dia berdoa kepada Allah sebelum itu…” (QS. Az-Zumar: 8)

Kebanyakan manusia yang pada saat sakit keras, bangkrut, atau terancam kehilangan nyawa, tiba-tiba menjadi sangat religius. Mereka senantiasa memanjatkan doa dengan penuh harap. Namun ketika kesulitan berlalu, kesadaran itu perlahan memudar. Saat terjadi bencana alam, perang, atau pandemi, banyak orang kembali mencari Tuhan. Rumah ibadah menjadi lebih ramai, doa menjadi lebih sering dipanjatkan. Namun setelah keadaan membaik, kesadaran spiritual itu sering kembali tenggelam.

Manusia : Antara Merdeka dan Ambigu

Persoalan muncul ketika manusia tidak sepenuhnya bertuhan secara penuh, totalitas kepada satu Tuhan. Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat mendalam tentang manusia yang hanya mengabdi kepada satu Tuhan dibandingkan manusia yang terikat pada banyak “tuhan.” Al-Qur’an menggambarkan dua sosok manusia yang menjadi budak dengan satu majikan dan mereka yang mengikuti banyak majikan. Budak dengan banyak majikan akan mengalami kebingunan mengikuti perintah majikan yang mana. Sementara budak dengan satu majikan akan memiliki satu instruksi saja. Hal ini ditegaskan Alah sebagaimana firman-Nya :

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيْهِ شُرَكَآءُ مُتَشٰكِسُوْنَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ ۗ هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ۚ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat dan selalu berselisih, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang saja. Adakah keduanya sama?” (QS. Az-Zumar: 29)

Ayat ini mengajarkan bahwa tauhid justru membebaskan manusia. Orang yang hanya bergantung kepada  satu Tuhan memiliki arah hidup yang jelas, hati yang tenang, dan prinsip hidup yang kokoh. Sebaliknya, orang yang menggantungkan hidup pada banyak hal seperti, harta, jabatan, popularitas, atau kekuasaan, hidupnya dalam ketegangan dan kecemasan, karena semua itu bersifat sementara.

Fenomena penyimpangan semakin terlihat dalam masyarakat modern yang sering menghindari pembicaraan tentang kematian, dosa, dan tanggung jawab moral, tetapi sangat antusias membicarakan kekayaan, hiburan, dan popularitas. Eksistensi Tuhan benar-benar tenggelam oleh kenikmatan duniawi.

Eksistensi Tuhan bukanlah sesuatu yang muncul dan tenggelam. Yang muncul dan tenggelam adalah kesadaran manusia terhadap Tuhan. Dalam keadaan sulit, kesadaran itu bangkit. Dalam kelapangan, ia sering memudar. Al-Qur’an menunjukkan bahwa manusia yang bertauhid secara konsisten adalah manusia yang merdeka, karena hanya bergantung kepada satu Tuhan. Sebaliknya, manusia yang menjauh dari Tuhan sering terjebak dalam ambiguitas batin dan kegelisahan hidup.

Karena itu, tantangan terbesar manusia bukanlah membuktikan keberadaan Tuhan, melainkan menjaga kesadaran akan-Nya agar tidak tenggelam oleh kesombongan, kelalaian, dan kenikmatan dunia. Kesadaran inilah yang menjadikan hidup memiliki arah, makna, dan tujuan yang melampaui kehidupan dunia ini.

Surabaya, 10 Pebruari 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search