Emosi Memuncak, Lisan Senjata Paling Tajam

Emosi Memuncak, Lisan Senjata Paling Tajam
*) Oleh : M.Fitriani
Bagian Bimbingan Rohani RSU Muhammadiyah Palangkaraya
www.majelistabligh.id -

Ketika emosi meluap, lisan bisa menjadi senjata yang paling mematikan. Islam mengajarkan bahwa diam di saat marah bukan kelemahan, tapi kemenangan. Sebab, kata-kata yang tak terkendali bisa menghancurkan segalanya dan berat di timbangan amal.

Ketika emosi memuncak, lisan sering kali menjadi senjata yang paling tajam melukai orang lain. Banyak orang menyesali apa yang telah dikatakan, namun jarang menyesalinya. Dari sinilah pentingnya memahami tuntunan agama dalam menjaga lisan, terutama saat marah. Islam memberikan panduan yang sangat mendalam tentang hal ini.

Manusia adalah makhluk yang diberikan kemampuan berbicara sebagai anugerah luar biasa dari Allah. Dengan lisan, manusia dapat menyampaikan pikiran, mengungkapkan cinta. Semua kalau tidak dijaga lisanya maka akan bisa menorehkan luka yang dalam. Tidak sedikit hubungan hancur, persahabatan putus, atau keluarga retak hanya karena satu dua kalimat yang keluar di saat emosi menguasai.

Ketika seseorang marah, kemampuannya untuk mengendalikan ucapan menjadi sangat terbatas. Rasulullah Saw. mengingatkan kita akan bahaya dari lisan yang tidak dijaga. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah fondasi bagi siapa pun yang ingin selamat dari penyesalan setelah berbicara. Diam bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kendali diri yang sangat kuat. Terutama dalam kondisi marah, diam adalah ibadah. Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam.” (H.R. Ahmad)

Di saat marah, setan sangat aktif menggoda manusia. Kata-kata yang keluar bukan lagi bentuk ekspresi jujur, tetapi pelampiasan yang sering melukai. Orang yang biasa lemah lembut bisa menjadi kasar, yang biasanya santun bisa berubah tajam. Setelah amarah reda, yang tersisa hanyalah sesal. Inilah kenapa Islam sangat menekankan pengendalian lisan, terutama saat marah.

Al-Qur’an pun tidak kalah tegas. Dalam Surah Qaf ayat 18, Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Artinya, setiap kata akan dicatat. Tidak ada yang terlewat. Kata yang diucapkan saat emosi, bahkan yang keluar spontan tanpa pikir panjang, tetap tercatat. Maka, betapa pentingnya menjaga lisan.

Kita semua pernah berada di situasi di mana emosi membuncah. Lidah tergelincir, suara meninggi, lalu tiba-tiba hubungan berubah. Kata yang terucap dalam lima detik bisa merusak cinta yang dibangun lima tahun. Bahkan setelah kita minta maaf, bekas luka dari kata-kata itu bisa menetap di hati orang lain.

Dari sini kita belajar bahwa ucapan bukanlah hal sepele. Apa yang dianggap “sekadar bicara” bisa jadi berat di timbangan amal. Maka tak heran jika banyak orang lebih memilih diam ketika marah. Bukan karena takut kalah dalam debat, tetapi karena takut kalah di hadapan Allah.

Dalam dunia yang serba cepat dan responsif seperti sekarang, menahan lisan menjadi tantangan tersendiri. Media sosial, misalnya, menyediakan ruang luas untuk debat kusir, saling menyindir, bahkan mencaci. Namun, yang bijak akan memilih diam atau berkata baik, bukan karena tidak bisa membalas, tetapi karena takut kepada pertanggungjawaban di akhirat.

Lisan adalah cermin hati. Jika hati bersih, maka ucapan akan penuh hikmah. Namun, jika hati kotor karena dendam, iri, atau amarah, maka lisan bisa menjadi alat kezaliman. Maka, menjaga lisan bukan hanya tentang menahan kata, tetapi juga membersihkan hati.

Ada satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. yang patut kita amalkan:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang bisa menunjukiku kepada yang paling baik kecuali Engkau. Dan jauhkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang bisa menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (H.R. Muslim)

Doa ini menegaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari akhlak mulia. Kita butuh bantuan Allah untuk bisa mengendalikannya, terutama saat marah atau kecewa. Ketika ingin melawan, ingatlah: diammu adalah kemuliaanmu. Ketika ingin membalas, sadarlah: Allah Maha Mengetahui segalanya.

Jika engkau merasa hatimu bergolak, mulutmu ingin berteriak, dan amarahmu membara, mundurlah sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Ingat bahwa diam bukan berarti kalah, tetapi bisa jadi itu jalan menang di hadapan Allah. Karena diammu, engkau tidak melukai. Karena diammu, engkau menyelamatkan dirimu dari kata-kata yang nanti akan engkau sesali.

Akhirnya, marilah kita jadikan diam sebagai bentuk ibadah ketika hati tak sanggup berkata dengan baik. Jadikan lisan kita hanya untuk yang membawa kebaikan. Karena sesungguhnya, keselamatan seseorang bergantung pada bagaimana ia menjaga lisannya.

Tinggalkan Balasan

Search