Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman mengingatkan pentingnya silaturahmi secara tatap muka meski sudah bisa dilakukan via media sosial. Hal itu itu disampaikan dr Agus dalam agenda halalbihalal dan Pelepasan Calon Jamaah Haji keluarga Besar Universitas Islam Indonesia 1447 H, Selasa (31/3/2026).
Agus menegaskan bahwa Silaturahmi adalah sebuah fundamental dalam membangun keharmonian kehidupan. Maka dari itu, menyambungkan kepada konteks kekinian, Agus menekankan bahwa silaturahmi ataupun ucapan permohonan maaf saat Idulfitri tak cukup disampaikan hanya melalui grup WA saja.
“Sekalipun, saat Idulfitri kemarin di grup WA, kita sudah menyampaikan permohonan maaf. Tapi alangkah baiknya jika diusahakan untuk tetap bertatap muka (bertemu langsung),” ujar Agus.
Lebih lanjut, ia merujuk ke penelitian seorang psikolog Kanada, Susan Pinker yang meneliti keadaan sebuah pulai di Sardinia, Italia, yang mana penduduk setempatnya berusia panjang, hingga mencapai usia 100 tahun-an.
Dari penelitian yang dilakukan Susan Pinker itu, Agus menyebut bahwa penelitian itu menunjukkan hasil bahwa selain faktor genetik, pada saat yang sama, rahasia dari umur panjang berakar dari tradisi atau kebiasaan dalam melakukan interaksi dan bersua secara tatap muka.
“Seringnya kebiasaan face to face antar sesama warga ini menjadi faktor dominan mengapa angka harapan hidup menjadi tinggi,” jelas Agus.
Kemudian, sumber kedua yang ia rujuk berasal dari seorang Neurolog dari Merlin University yang mengkomparasikan perbedaan antara bertemu face to face dengan pertemuan secara daring.
Dalam hal yang lebih jauh lagi, ia kemudian juga merujuk kepada penelitian Robert Waldinger, psikiater dan psikoanalisis dari Harvard University, Amerika Serikat yang memaparkan bahwa di antara faktor dominan yang menjadikan harapan hidup meningkat adalah relasi sosial yang baik, disamping kebiasaan berfikir positif (positive thinking).
“Ini terbukti betul bahwa Nabi bahkan sudah memberi isyarat 14 abad yang lalu, dan pasti kebenarannya. Dengan penyampaian data dari ilmuwan itu, harusnya dapat semakin menguatkan kita untuk silaturahmi,” ucapnya.
Terakhir, Agus pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan silaturahmi sebagai kebiasaan yang terus dijaga, tidak hanya saat hari raya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memperkuat hubungan antarsesama, diharapkan tercipta kehidupan yang lebih harmonis, sehat, dan penuh keberkahan.
“Maka disinilah relevansi Idul Fitri, menjadi ruang memperkuat jangkar silaturahmi, hubungan kekeluargaan untuk menciptakan kehidupan kian harmoni,” pungkas Agus. (*/tim)
