Etos Kerja dalam Islam: Pesan Abadi dari Surah At-Taubah Ayat 105

www.majelistabligh.id -

Bekerja bukan sekadar rutinitas atau cara mencari nafkah. Dalam pandangan Islam, setiap tetes keringat adalah bagian dari ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Surah At-Taubah ayat 105 mengingatkan bahwa setiap amal akan dilihat oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, sekaligus menjadi fondasi etos kerja yang mulia bagi setiap muslim.

وَقُلِ اعۡمَلُوۡا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُوۡلُهٗ وَالۡمُؤۡمِنُوۡنَ​ؕ وَسَتُرَدُّوۡنَ اِلٰى عٰلِمِ الۡغَيۡبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ​‏

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Bekerjalah! Maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

Surah At-Taubah ayat 105 menjadi pengingat bahwa apapun bentuk pekerjaan kita, selama diniatkan untuk mencari rida Allah dan dilakukan sesuai ketentuan-Nya, bekerja akan memiliki nilai yang mulia.

Isi Kandungan Surat At-Taubah Ayat 105

Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Alfiyatul Azizah, L.C., M.Ud menjelaskan, surah At-Taubah ayat 105 mengisyaratkan perintah Allah kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada kaum muslimin yang bertobat agar memperbanyak amal saleh. Perintah ini berangkat dari asbabun nuzul atau sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Quran.

Bentuk amal saleh yang dimaksud tersebut bisa berupa sedekah, zakat, maupun amal kebajikan lain.

“Pesan utamanya adalah setiap amal, baik dari mukmin maupun nonmukmin akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, Rasul, dan seluruh umat Islam di akhirat kelak, untuk kemudian Allah memberi balasan atas apa yang dilakukan tersebut,” terang Alfiyatul secara daring, pada Jumat (8/8/2025).

Perintah ٱعْمَلُوا atau berbuatlah/beramallah bersifat umum, lanjut Alfia, dan mencakup semua aktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Ini menjadi dasar konsep etos kerja dalam Islam, yakni bekerja dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan disiplin untuk kemaslahatan umat.

Ringkasnya, arti surat At-Taubah ayat 105 adalah dorongan untuk terus bergerak, berkarya, dan berkontribusi demi kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Bukan sekadar bekerja dalam arti mencari nafkah, tetapi mencakup semua aktivitas positif yang diniatkan sebagai ibadah.

“Karena dalam kaidah tafsir, kata perintah hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yan lebih tinggi kedudukannya (Khaliq) kepada yang lebih rendah (makhluk),” kata dia.

Alfia menekankan, dengan menyadari kedudukan kita, maka seorang hamba akan senantiasa taat, patuh dan tunduk terhadap ketentuan Allah. Salah satu bentuk kepatuhan adalah dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Begitu pula kaitannya dengan individu dan anggota masyarakat, kata perintah ٱعْمَلُوا bersifat umum, sehingga bermakna sangat luas.

“Semua amal saleh yang bisa dilakukan dan diusahakan dalam rangka membangun peradaban demi kemaslahatan dan kesejahteraan hidup bersama,” katanya.

Dalam surah At-Taubah ayat 105, yang perlu diperhatikan adalah semangat dan nilai yang ingin dibangun oleh Al-Qur`an, bukan pada jenis pekerjaannya.

Lantaran menurut Alfiyatul, pada dasarnya semua pekerjaan adalah baik, selama tidak melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

“Yang dijadikan sebagai standar adalah ketentuan Allah dan Rasul-Nya, bukan pada besarnya gaji, bukan pada bersihnya tempat, bukan pada kerapian seragam, atau hal-hal lain yang hanya bersifat duniawi dan tidak esensi, ya,” tegasnya.

Keteladanan Bekerja Nabi dan Sahabat

Alfiyatul mengatakan, dalam sirah banyak dijelaskan tentang bagaimana idealnya kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya.

Selain beribadah, mempelajari Islam, dan membersamai Rasul, para sahabat juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما أكَلَ أحَدٌ طَعامًا قَطُّ، خَيْرًا مِن أنْ يَأْكُلَ مِن عَمَلِ يَدِهِ، وإنَّ نَبِيَّ اللَّهِ داوُدَ عليه السَّلامُ، كانَ يَأْكُلُ مِن عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud ‘alaihis salam memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (Hadis Riwayat Bukhari Nomor 2072)

Hadis di atas menunjukkan bagaimana Rasulullah mendorong umatnya untuk terus bergerak dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bahkan diriwayatkan pula jika Rasulullah selalu memotivasi para sahabatnya untuk terus bergerak atau berbuat baik, terutama dalam hal bekerja.

“Karena hasil yang mereka dapatkan dari bekerja akan dapat membantu sesama, memuliakan keluarganya, dan digunakan sebagai sarana ibadah kepada Allah,” tutup Alfiyatul. (genis dwi gustati)

Tinggalkan Balasan

Search