*)Oleh: Nashrul Mu’minin
Content Writer Yogyakarta
Dalam video “Bedah Mindset PEREMPUAN BERKELAS Yang Bikin Kamu Bisa SURVIVE!”, Love Lavina menyajikan pendekatan transformasional tentang konsep “perempuan berkelas” yang jauh dari gemerlap gaya hidup mewah. Konsep ini lebih menekankan pada mindset dan nilai internal seperti keteguhan, kesiapan mental, dan kemandirian. Perempuan berkelas bukanlah tentang penampilan luar, tetapi tentang kualitas diri yang sebenarnya.
Perempuan berkelas memiliki kesiapan untuk melepaskan hubungan yang tidak sehat, bukan sebagai bentuk melawan cinta, tetapi sebagai manifestasi harga diri dan komitmen kepada diri sendiri. Melepaskan bukan akhir, melainkan awal fase baru yang lebih kuat. Ini menunjukkan bahwa perempuan berkelas memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan yang tepat dan tidak tergantung pada orang lain.
Kontras antara “cewek nakal” dan “High Value Badgirl” menjadi garis pemisah filosofis. Satu menggunakan manipulasi dan jalan pintas, sementara yang lain memilih logika, tanggung jawab, dan nilai-nilai moral yang membentuk daya tarik sejati. Perempuan berkelas memilih untuk menjadi dirinya sendiri, bukan mencoba menjadi orang lain.
Feminin bukan sekadar penampilan. Penampilan hanya bagian kecil dari kualitas diri, sedangkan kehadiran nilai spiritual, kerja keras, dan pengembangan diri lebih berperan sebagai magnet daya tarik jangka panjang. Perempuan berkelas memahami bahwa kecantikan sejati berasal dari dalam, bukan hanya dari penampilan luar.
Ketika hubungan sudah tak sehat, perempuan berkelas diajak untuk tidak takut melepaskan. Tidak sekadar bercinta, tetapi membangun cinta yang sehat dan terarah. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh ketergantungan emosional, tapi oleh batasan dan standar yang dijaga secara konsekuen. Perempuan berkelas memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang baik untuk dirinya sendiri.
Mindset ‘abundance’ (berlimpah) diperkuat sebagai fondasi mental. Perempuan berkelas memahami bahwa penolakan bukan akhir dunia, dan masih banyak peluang cinta yang lebih baik. Ini menanamkan resilience emosional yang sangat penting. Perempuan berkelas tidak tergantung pada satu orang atau satu hubungan.
Tidak mengejar atau dikejar adalah soal kesiapan. Bukan soal gender aturan, tetapi soal siapa yang siap dengan kualitas diri. Strategi interaksi sosial yang dibangun melalui self-worth dan nilai internal menjadi daya tarik, bukan bergantung pada siapa lebih aktif mengejar. Perempuan berkelas memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang baik untuk dirinya sendiri.
Perempuan berkelas juga memiliki hubungan yang sehat dengan uang. Memiliki keuangan mandiri bukan untuk membeli cinta, tapi untuk menjaga harga diri, menghindari ketergantungan, dan membangun kepercayaan bahwa cinta sejati tidak dibeli, melainkan tumbuh secara seimbang. Perempuan berkelas memahami bahwa uang bukanlah segalanya, tetapi memiliki keuangan mandiri dapat membantu meningkatkan kualitas hidup.
Namun, penggunaan label “High Value Badgirl” mungkin menimbulkan dilema. Istilah “Badgirl” bisa terdengar kontroversial karena lekat dengan stereotip negatif. Namun, konteks redefinisi istilah ini sebagai “berani menegakkan nilai” memang cukup mengundang refleksi ulang. Perempuan berkelas tidak perlu label, tetapi memiliki kekuatan untuk menjadi dirinya sendiri.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan video ini adalah panggilan untuk transformasi kultural. Perempuannya didorong bukan untuk tampil berkelas menurut norma luapan konsumerisme, tapi berkelas secara substansial melalui integritas, tanggung jawab, dan visi hidup jangka panjang. Perempuan berkelas bukan tentang penampilan luar, tetapi tentang kualitas diri yang sebenarnya. Dengan memahami dan menginternalisasi nilai-nilai ini, perempuan dapat menjadi lebih kuat, mandiri, dan berkelas dalam arti yang sebenarnya. (*)
