Fenomena Isra’ Mi’raj: dari Masjid ke Masjid, dari Iman ke Peradaban

*) Oleh : Moh.Mas’al, S.HI., M.Ag.
Kepsek SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Kabupaten Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Peristiwa Isrā’ Mi‘rāj bukan sekadar mukjizat perjalanan Nabi Muhammad ﷺ melintasi ruang dan langit, melainkan juga sebuah narasi peradaban yang sarat simbol, pesan teologis, dan arah pembangunan umat.

Al-Qur’an dengan tegas menandai peristiwa ini sebagai perjalanan dari masjid ke masjid, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, sebelum naik ke Sidratul Muntahā.

Fakta bahwa Allah memulai dan menutup perjalanan agung ini dengan masjid mengisyaratkan kebangkitan Islam baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial—bermula dari pusat ibadah dan ilmu. Masjid bukan sekadar ruang ritual, tetapi jantung peradaban.

Isrā’ Mi‘rāj: Perjalanan Suci dari Masjid ke Masjid Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya.”

Para mufassir menegaskan bahwa penyebutan masjid dalam ayat ini bukan kebetulan. Ibn ‘Āsyūr menafsirkan bahwa masjid merupakan simbol kesinambungan risalah tauhid sejak para nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad ﷺ.

Isrā’ Mi‘rāj juga mempertemukan Rasulullah ﷺ dengan para nabi di Masjidil Aqsha, lalu mengimami mereka. Ini menegaskan kepemimpinan spiritual dan peradaban Islam atas risalah-risalah sebelumnya, sekaligus menempatkan masjid sebagai ruang persatuan umat manusia dalam ibadah dan nilai.

Hijrah Nabi dan Fondasi Peradaban Masjid

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan bukan membangun istana, pasar, atau benteng militer, melainkan mendirikan masjid. Masjid Qubā’ menjadi bangunan pertama yang ditegakkan atas dasar takwa. Allah berfirman:

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih pantas engkau shalat di dalamnya.”

Masjid Nabawi kemudian menjadi pusat multifungsi:

  1. Tempat ibadah dan pendidikan.
  2. Ruang musyawarah politik dan sosial.
  3. Markas dakwah dan strategi umat.

Menurut al-Zarkasyī, masjid pada masa Nabi ﷺ adalah universitas terbuka, tempat lahirnya generasi sahabat yang memadukan iman, ilmu, dan amal.

Masjid dan Lahirnya Peradaban Islam Klasik: Kasus Cordoba

Refleksi Isrā’ Mi‘rāj sebagai perjalanan peradaban menemukan manifestasi nyatanya dalam sejarah Islam klasik, salah satunya Masjid Cordoba (Jāmi‘ Qurṭubah) di Andalusia. Masjid Cordoba tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan internasional. Dari masjid inilah lahir ulama, ilmuwan, dan filsuf besar yang mempengaruhi Eropa, seperti Ibn Rushd dan Ibn Hazm.

Sejarawan Barat, Montgomery Watt, mengakui bahwa masjid-masjid besar di dunia Islam berfungsi sebagai inkubator peradaban, tempat integrasi ilmu agama dan sains.

Cordoba pada abad ke-10 M menjadi kota paling terang di Eropa, memiliki perpustakaan ratusan ribu manuskrip. Sementara banyak kota Eropa masih tenggelam dalam kegelapan intelektual. Semua itu berakar dari tradisi masjid sebagai pusat ilmu.

Refleksi Kontemporer: Masjid sebagai Titik Bangkit Umat

Fenomena Isrā’ Mi‘rāj mengajarkan bahwa kebangkitan umat tidak dimulai dari kemewahan materi, tetapi dari kesucian orientasi spiritual. Ketika masjid direduksi hanya menjadi ruang ritual formal, umat kehilangan arah peradabannya.

Isrā’ Mi‘rāj menegaskan tiga pesan utama:

  1. Tauhid sebagai fondasi peradaban (Isrā’).
  2. Ilmu dan spiritualitas sebagai poros kemajuan (Mi‘rāj).

Dalam konteks modern, revitalisasi masjid harus diarahkan pada penguatan fungsi edukatif, sosial, dan moral, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ dan diwariskan oleh peradaban Islam klasik.

Isrā’ Mi‘rāj adalah peta jalan peradaban Islam: berangkat dari masjid, dimuliakan oleh wahyu, dan kembali untuk membangun bumi. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dari Qubā’ ke Masjid Nabawi, hingga Masjid Cordoba, membuktikan bahwa di mana masjid dimakmurkan dengan iman dan ilmu, di situlah peradaban tumbuh.

Maka, membicarakan Isrā’ Mi‘rāj sejatinya adalah membicarakan masa depan umat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search