Fenomena ‘Makan Balas Dendam’ Saat Ramadan, Harga Pangan Terancam?

Fenomena 'Makan Balas Dendam' Saat Ramadan, Harga Pangan Terancam?
www.majelistabligh.id -

Bulan Suci Ramadan seringkali menjadi panggung kontradiksi dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Di satu sisi, esensi puasa adalah menahan diri, namun di sisi lain, statistik justru menunjukkan adanya lonjakan permintaan pangan yang sangat masif. Fenomena ini menarik perhatian Rahmah Utami Budiandari STP MP, pakar Teknologi Pangan sekaligus Kaprodi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Menurutnya, pergeseran pola makan selama bulan puasa bukan sekadar tradisi, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kondisi fisiologis manusia dan dinamika pasar.

​Rahmah menjelaskan, lonjakan ini dipicu oleh kebutuhan yang terkonsentrasi pada waktu yang singkat. Komoditas seperti beras, gula, telur, daging, hingga minyak goreng menjadi buruan utama. Namun, yang paling menarik perhatian adalah fenomena psikologis yang sering disebut sebagai “makan balas dendam” saat berbuka.

​Ada beberapa faktor ilmiah yang mendasari mengapa volume makan kita justru meningkat saat Ramadan :
​Respon Alami Tubuh terhadap Hipoglikemia : Setelah lebih dari 12 jam tanpa asupan, kadar gula darah manusia menurun drastis.
Secara biologis, otak mengirimkan sinyal kuat untuk mengonsumsi makanan padat energi terutama yang manis secara cepat guna memulihkan tenaga.

Konsentrasi Energi yang Tidak Seimbang : Riset menunjukkan bahwa sekitar 60% total kalori harian masyarakat saat Ramadan justru masuk hanya dalam satu sesi, yaitu saat berbuka puasa. Hal ini menciptakan ilusi bahwa kita makan lebih banyak, padahal frekuensi makannya berkurang.

​Dorongan Hormon Kebahagiaan : Mengkonsumsi karbohidrat dan gula setelah berpuasa memicu pelepasan hormon serotonin.
Efek relaksasi dan kepuasan ini seringkali kali membuat seseorang kehilangan kendali dan makan melampaui batas kebutuhan nutrisi normalnya.

Dampak Berantai pada Stabilitas Harga dan Pasokan
​Lonjakan permintaan yang bersifat musiman ini, menurut Rahmah, memberikan tekanan yang luar biasa pada sistem logistik pangan nasional. Ketika jutaan orang mencari bahan baku yang sama dalam waktu bersamaan, rantai pasok dipaksa bekerja ekstra keras.
​Distributor dan produsen harus melakukan mitigasi sejak jauh hari.

Risiko keterlambatan distribusi atau kekosongan stok di wilayah tertentu menjadi ancaman nyata yang dapat memicu fluktuasi harga.
Rahmah mencatat bahwa meskipun periode ini menjadi “panen raya” bagi keuntungan produsen dan pedagang, ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dan tingginya minat beli tetap berisiko menciptakan inflasi pangan.

​Menyikapi rutinitas tahunan ini, industri pengolahan pangan biasanya telah menerapkan strategi peak season.
Langkah-langkah seperti peningkatan kapasitas produksi sebelum bulan Syaban, manajemen stok yang lebih ketat, serta penguatan jalur distribusi dilakukan untuk memastikan barang tetap tersedia di rak-rak pasar swalayan maupun pasar tradisional.

​”Pihak industri umumnya sudah melakukan perencanaan produksi jauh lebih awal untuk mencegah gangguan stabilitas pasar,” ungkap Rahmah.

Namun, Rahmah juga memberikan catatan penting bagi masyarakat. Kesiapan industri tidak akan berarti banyak tanpa kesadaran konsumen. Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dan tidak terjebak dalam perilaku belanja berlebihan (panic buying), sehingga ekosistem pangan tetap sehat dan ibadah Ramadhan dapat dijalani dengan lebih bersahaja tanpa beban finansial yang membengkak. (abdul fatah)

Tinggalkan Balasan

Search