Dalam khazanah keislaman, istilah azab sering dipahami secara sempit sebagai hukuman Allah yang bersifat menakutkan dan identik dengan bencana, penyakit, atau penderitaan fisik. Padahal, Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ menghadirkan konsep azab secara lebih luas, mendalam, dan edukatif.
Dalam perspektif Islam berkemajuan, azab tidak sekadar dimaknai sebagai pembalasan, melainkan sebagai peringatan moral dan mekanisme koreksi agar manusia kembali pada jalan kemanusiaan dan ketuhanan.
Islam membedakan secara implisit antara azab individu dan azab sosial (kolektif). Keduanya memiliki karakter, sebab, dan tujuan yang berbeda, tetapi sama-sama berfungsi sebagai cermin bagi kualitas iman dan akhlak manusia.
Azab Individu: Teguran atas Kesadaran Moral
Azab individu berkaitan erat dengan tanggung jawab personal manusia atas pilihan hidupnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap jiwa memikul akibat dari apa yang diperbuatnya:
“Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 13)
Azab individu tidak selalu hadir dalam bentuk penderitaan fisik atau musibah kasat mata. Dalam banyak kasus, azab justru hadir sebagai kegelisahan batin, hilangnya ketenangan, rusaknya relasi sosial, atau matinya nurani. Seseorang bisa tampak sukses secara materi, tetapi hidup dalam kehampaan spiritual—dan itulah bentuk azab yang sering tidak disadari.
Dalam Islam berkemajuan, azab individu dipahami sebagai konsekuensi etis dari pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan: kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan keadilan. Ketika seseorang terbiasa berdusta, korup, menipu, atau menyalahgunakan kekuasaan, maka kerusakan pertama yang terjadi adalah pada dirinya sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya dosa itu adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, azab individu berfungsi sebagai alarm moral. Ia mendorong manusia untuk bertobat, memperbaiki diri, dan menata ulang orientasi hidupnya. Islam tidak menghendaki manusia terjebak dalam rasa takut, tetapi diajak untuk bertumbuh melalui kesadaran dan tanggung jawab pribadi.
Azab Sosial: Konsekuensi Kerusakan Kolektif
Berbeda dengan azab individu, azab sosial muncul ketika kerusakan moral dan struktural telah menjadi budaya bersama dan dibiarkan secara sistemik. Al-Qur’an menegaskan bahwa kehancuran suatu kaum bukan terjadi tanpa sebab:
“Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim.”
(QS. Hūd [11]: 102)
Azab sosial sering kali hadir dalam bentuk ketidakadilan struktural, krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan hilangnya kepercayaan publik. Dalam konteks ini, bencana alam atau krisis sosial tidak boleh disederhanakan sebagai “hukuman Tuhan” semata, tetapi harus dibaca sebagai akumulasi dari kesalahan manusia dalam mengelola kehidupan bersama.
Islam berkemajuan menolak cara pandang fatalistik yang memisahkan agama dari tanggung jawab sosial. Ketika korupsi dinormalisasi, hukum dipermainkan, kaum lemah diabaikan, dan alam dieksploitasi tanpa etika, maka masyarakat sedang menyiapkan azab sosialnya sendiri. Al-Qur’an mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rūm [30]: 41)
Ayat ini sangat relevan dengan realitas kontemporer: krisis iklim, bencana ekologis, kemiskinan struktural, dan konflik horizontal. Semua itu bukan datang tiba-tiba, melainkan buah dari kebijakan dan perilaku kolektif yang jauh dari nilai keadilan dan rahmah.
Dari Azab Menuju Tanggung Jawab Peradaban
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, memandang azab bukan sebagai alat menakut-nakuti umat, tetapi sebagai bahan refleksi peradaban. Azab individu mengingatkan pentingnya integritas personal, sementara azab sosial menegaskan urgensi reformasi struktural dan keberpihakan pada kemaslahatan umum.
Dalam spirit amar ma’ruf nahi munkar, Islam berkemajuan menekankan bahwa mencegah azab sosial berarti membangun sistem yang adil, pendidikan yang mencerahkan, ekonomi yang berkeadilan, dan kepemimpinan yang amanah. Nabi ﷺ bersabda:
“Jika manusia melihat kemungkaran lalu tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa diam terhadap kezaliman adalah bagian dari sebab datangnya azab sosial.
Azab dan Fenomena Perubahan Sikap
Azab, baik individu maupun sosial, dalam Islam berkemajuan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan panggilan untuk berubah. Ia mengajak manusia dan masyarakat untuk kembali pada nilai tauhid yang membebaskan, akhlak yang memuliakan, dan keadilan yang menyejahterakan.
Dengan membaca azab secara kritis dan berkemajuan, umat Islam tidak terjebak pada sikap menyalahkan Tuhan, tetapi terdorong untuk bermuhasabah, berbenah, dan bergerak membangun peradaban yang berkeadilan dan berkeadaban. Inilah tabligh yang mencerahkan, bukan menakutkan; membangkitkan harapan, bukan keputusasaan.
