Filantropi Islam

Filantropi Islam
*) Oleh : Abdul Mu'ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI & Sekretaris Umum PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), filantropi adalah cinta kasih, kedermawanan, atau mewujudkan kesejahteraan sesama manusia. Secara etimologi, filantropi berasal dari bahasa Yunani: philos (cinta) dan anthrophos (manusia). Filantropi berbeda dengan corporate social responsibility (CSR) dari sisi sumber dananya. CSR terbatas dari bisnis, penerima dan distribusi terbatas, utamanya komunitas terdekat. Filantropi berbeda dengan santunan (charity) yang pada umumnya bersifat jangka pendek (immediate), karikatif, seremonial, dan instrumental.

Islam adalah agama filantropi. Di dalam Al-Qur’an diajarkan agar manusia senantiasa berbagi, memberikan yang terbaik bagi sesama sebagai perwujudan iman.

“Kamu tidak akan sampai pada kebajikan (sempurna) sebelum (ikhlas) memberikan sebagian (harta) yang masih kamu cintai (Qs. Ali Imran [3]:92). Kedermawanan merupakan pembeda kaum beriman dengan kaum munafik. Kaum beriman banyak berderma (Qs. At-Taubah [9]: 71), orang munafik kikir dan pelit (Qs. At-Taubah [9]: 67). Banyak berderma adalah ciri manusia yang bertakwa (Qs. Ali Imran [3]: 134).

Dilihat dari jenis, jumlah, kelompok penerima (mustahik), dan waktu pemberian, ada enam jenis filantropi Islam: zakat, infaq, sedekah, wakaf, hibah, dan hadiah. Filantropi memiliki jangkauan yang sangat luas dan tidak terbatas. Penerima manfaat tidak terbatas umat Islam, berorientasi jangka panjang, dan peruntukan yang beragam. Karena itu filantropi meniscayakan organisasi dan manajemen yang profesional, bukan pemberian individual dan temporal.

Al-Qur’an mengumpamakan filantropi dan filantropis laksana pohon. “Perumpamaan orang yang berinfak di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji (Qs. Al-Baqarah [2]: 261). Berinfak adalah investasi dunia dan akhirat. Harta yang didermakan di jalan Tuhan bermanfaat di dunia dan terus mengalir pahalanya sampai di akhirat.

Sebagai contoh, dengan sedikit harta kita memberi beasiswa kepada seorang murid sampai menyelesaikan studi. Selesai studi di perguruan tinggi sang murid menjadi guru atau dokter. Dengan ilmunya, ia mendidik ratusan, bahkan ribuan murid. Berbeda sekali jika harta habis untuk pelesir atau sesuatu yang konsumtif. Semua hanya menjadi kesenangan yang menipu dan melenakan (mata’ al-ghurur), kebahagiaan sesaat yang tidak banyak manfaat.

Puasa mendidik kita agar berjiwa kaya: memiliki harta dan memberikan sebagiannya untuk sesama dengan penuh ketulusan dan rasa cinta. (*)

Tinggalkan Balasan

Search