Makna Lailatul Qadar:
* Turunnya Al-Qur’an: Lailatul Qadar adalah malam ketika Al-Qur’an diturunkan, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5.
* Lebih baik dari seribu bulan: Ibadah pada malam ini bernilai lebih besar daripada ibadah selama 83 tahun.
* Turunnya malaikat: Malaikat, termasuk Jibril, turun membawa rahmat dan ketentraman.
Mengapa Malam Ganjil?
* Rasulullah SAW menekankan pencarian Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Hal ini disebutkan dalam banyak hadis.
* Hikmahnya: Allah menyembunyikan kepastian waktunya agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang malam-malam ganjil, bukan hanya satu malam tertentu.
Malam ganjil bukan sekadar hitungan tanggal, tetapi simbol kesungguhan dalam mencari ridha Allah. Dengan tidak mengetahui pasti kapan Lailatul Qadar terjadi, umat Islam diajak untuk konsisten beribadah, memperbanyak doa, dan menjaga hati tetap ikhlas sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
1. Bukan sekadar angka ganjil
Malam ganjil sering dipahami sebagai tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan. Namun, hakikatnya bukan pada angka, melainkan pada kesungguhan hati. Allah menyembunyikan kepastian waktunya agar kita tidak terjebak pada hitungan, melainkan pada keikhlasan ibadah sepanjang malam.
2. Ganjil sebagai simbol keterputusan
Angka ganjil dalam Islam sering dikaitkan dengan keesaan Allah (Al-Witr). Jadi, malam ganjil bukan hanya “peluang,” tapi juga pengingat bahwa segala sesuatu kembali kepada Yang Esa. Ibadah di malam ganjil adalah latihan untuk menanggalkan keterikatan pada dunia yang genap, menuju Allah yang Maha Tunggal.
3. Rahasia di balik ketidakpastian
Justru karena kita tidak tahu malam mana yang pasti, Allah mengajarkan kesabaran, konsistensi, dan kerendahan hati. Malam ganjil menjadi ujian: apakah kita hanya bersemangat pada satu malam (misalnya 27 Ramadan), atau tetap tekun di semua malam ganjil?
4. Ganjil sebagai ruang refleksi
Malam ganjil bisa dimaknai sebagai “ruang kosong” yang tidak simetris. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu seimbang atau teratur, tetapi di dalam ketidakteraturan itu ada kesempatan menemukan Allah.
Kita dalam memahami ganjil genap benar-benar tanggal, padahal ganjil dan genap bukan soal tanggal. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Fajr ayat 1 – 3
وَالْفَجْرِۙ وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ
Artinya Demi waktu fajar, demi malam yang sepuluh,754), demi yang genap dan yang ganjil,
754). Yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Ada pula yang mengatakan sepuluh pertama dari bulan Muharam, termasuk di dalamnya hari Asyura, dan ada pula yang mengatakan sepuluh malam pertama dari bulan Zulhijah.
Jadi ganjil dan genap itu sudut pandang. Kalau kita pandang sesuatu dari sudut pandang kita dengan genap, kita akan terjebak baik dan buruk, benar dan salah, itu yag berbahaya. Tapi kalau sesuatu itu di pandang dari sudut pandang Allah. Satu sudut pandang saja itu namanya ganjil. Dari sudut pandang Allah tidak ada baik buruk. Semua yag terjadi adalah kebenaran dan kita mudah menerima.
Contoh sederhana ada orang yang datang kepada kita menyenangkan, pandang dari sudut pandang kita akan terjadi kemelekatan orang itu karena dia membahagiakan kita. Ada orang yang datang kepada kita menyakiti kita. Kita akan melihat dia sebagai keburukan dari sudut pandang kita. Yang paling peting kita bisa mengambil pelajarannya dari itu. Itu namannya mengganjilkan sudut pandang. Kalau kita sudah ganjil sudut pandangnya lailatul qodar turun.
Apakah bisa mencapai lailatul qodar, kita harus mengalami terangnya mata qolbu kita melampaui seribu bulan. Puncaknya lailatul qodar adalah :
سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ
Artinya: Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.
Fajar berarti transisi dari gelap ke terang, dari jahiliyah menjadi pintar, tidak sadar menjadi sadar. Itu fajar. Ketika fajar meyingsing matahari ruhani terbit, bukan matahari yang diluar sana semua orang bisa melihat itu. Saksikan matahari yang berada dalam dirimu.
Usaha berhasil pasrah kepada Allah, usaha gagal pasrah kepada Allah. Yang paling penting kita bisa menangkap pesannya ganjil sudut padangnya. Itu lailatul qodar.
Malam ganjil Lailatul Qadar bukan sekadar peluang matematis, melainkan panggilan spiritual untuk menajamkan kesungguhan, meneguhkan tauhid, dan merayakan ketidakpastian sebagai jalan menuju Allah. (*)
