Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Candi menggelar kegiatan halalbihalal 1447 H dengan penuh khidmat dan kehangatan di Masjid Al Mujaddid SD Muhammadiyah 1 Candi, Ahad (5/4/2026). Kegiatan yang dihadiri oleh warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kualitas keimanan pasca-Ramadan.
Dalam acara tersebut, kajian disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah dr. H. Agus Taufiqurrohman, MKes yang mengangkat tema keikhlasan dalam kehidupan beragama. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa salah satu kunci untuk meraih surga adalah dengan semangat tholabul ilmu atau menuntut ilmu.
“Ngaji itu urip dadi aji. Dengan mengaji, hidup menjadi bernilai dan dimudahkan oleh Allah dalam berbagai urusan,” ungkapnya di hadapan jamaah. Ia juga berpesan agar umat Islam tidak pernah merasa bosan dalam menuntut ilmu agama, karena hal tersebut menjadi bekal utama menuju kehidupan akhirat.
Lebih lanjut, beliau mengulas tentang pentingnya keikhlasan sebagaimana tergambar dalam hadis qudsi. Ia mencontohkan bahwa amal kebaikan dapat menjadi sia-sia apabila tidak dilandasi niat yang tulus karena Allah.
“Ada orang kaya yang dermawan, tetapi ingin disebut dermawan. Ada yang mengajar, tetapi ingin dipuji sebagai ustaz. Bahkan ada yang berjihad, namun berharap disebut sebagai pejuang,” jelasnya.
Menurutnya, ketiga golongan tersebut harus menjadi pelajaran bagi umat Islam agar senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal perbuatan. Keikhlasan, lanjutnya, adalah kunci diterimanya amal di sisi Allah.
Ikhlas berarti memurnikan niat hanya karena Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, balasan, atau pengakuan dari manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Tanpa keikhlasan, amal yang besar sekalipun bisa menjadi sia-sia.
Ia lantas memberikan perumpamaan yang sederhana namun mendalam. Ia mengajak jamaah untuk belajar dari pohon kelapa dan pohon pepaya.
“Pohon kelapa dan pepaya itu memberi manfaat tanpa pamrih. Semua bagian dari pohon itu bermanfaat bagi manusia, tetapi tidak pernah meminta pujian. Begitulah seharusnya kita dalam beramal,” pesannya.
Kegiatan halabihalal ini diharapkan mampu menjadi sarana refleksi diri sekaligus penguat komitmen untuk terus meningkatkan keikhlasan dan semangat menuntut ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Halalbihalal bukan sekadar tradisi saling memaafkan, tetapi menjadi momentum memperbaiki hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) dan memperkuat hubungan dengan Allah (hablum minallah). Dalam momen ini, keikhlasan menjadi fondasi utama agar setiap amal yang dilakukan bernilai ibadah dan diterima oleh Allah SWT. (m syukron dian)
